Daripada Mengumpat Mending Makan Ketupat


sumber : http://1.bp.blogspot.com/-uSWbOm76Lpg/T0D8UsSW1KI/AAAAAAAAAHo/JZ5f6xEqpII/s1600/ketupat+hari+raya.JPG

KETUPAT sangat identik sebagai hidangan spesial di hari lebaran. Banyak orang yang menjadikan ketupat sebagai menu yang wajib ada saat lebaran. Dan ternyata ketupat yang biasa hadir di setiap lebaran ini punya filosofinya sendiri loh.

Sobat Djadoel sudah tahu dong kalau ketupat itu adalah hidangan yang terbuat dari beras. Nah, beras tersebut dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa dan dikukus/direbus sampai matang. Konon, tradisi ketupat ini diperkirakan berasal dari saat Islam masuk ke tanah Jawa.

Menurut sejarah, ketupat pertama kali diperkenalkan ke masyarakat Jawa oleh Sunan Kalijaga. Saat itu, untuk menyambut hari lebaran Sunan Kalijaga membudayakan yang namanya Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Nah, Bakda Kupat ini dilaksanakan seminggu sesudah lebaran. Dulu dalam Bakda Kupat, hampir setiap rumah di Jawa terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Dan kalau ketupatnya sudah matang, ketupat ini akan diantarkan ke kerabat yang lebih tua.

Ketupat sendiri bisa dikatakan sebagai ungkapan budaya, karena ketupat sudah menjadi simbol yang di dalamnya terkandung makna dan pesan tentang kebaikan. Kalau Sobat Djadoel tahu, ketupat yang terbuat dari beras kemudian dibungkus janur itu merupakan simbol nafsu dunia yang ditutupi dengan hati nurani. Karena ternyata beras melambangkan nafsu dunia dan janur yang berasal dari bahasa Jawa ‘Jatining Nur’ berarti hati nuarani. Jadi, ketupat memiliki pesan agar setiap orang harus bisa mengendalikan diri dengan menutupi nafsu dunia dengan hati nurani.

Masih dari filosofi Jawa, ketupat ini bisa diartikan dengan ‘laku papat’ atau empat tindakan yang biasa dilakukan pada saat lebaran. Laku papat itu yakni lebaran (Idul Fitri), luberan (melimpah/simbol untuk zakat), leburan (melebur semua kesalahan) dan laburan (memutihkan hati lahir dan batin).

Sedangkan dalam adat Sunda, ketupat atau Kupat berarti ‘Ngaku Lepat’ atau mengakui kesalahan. Dimana ini merupakan tindakan yang selalu umat Muslim lakukan pada Idul Fitri, yakni bermaaf-maafan dengan orang lain. Ada juga yang mengartikannya jangan ‘ngupat’ atau membicarakan keburukan orang lain.

Sedangkan menurut beberapa ahli, ketupat ini memiliki beberapa arti. Diantaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, ini dilihat dari berapa rumitnya anyaman cangkang ketupat. Ketupat juga bisa mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah berpuasa, ini dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Ada juga yang mengartikan ketupat sebagai symbol kesempurnaan, ini dilihat dari bentuk ketupat. Semua simbol itu dihubungkan dengan hari kemenangan umat Muslim yakni Idul Fitri.

Namun, selain dijadikan sebagai simbol lebaran, dulu ketupat juga dijadikan sebagai penolak bala. Zaman dulu masyarakat Jawa percaya bahwa dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di pintu masuk rumahnya akan terhindar dari berbagai hal buruk. Biasanya ketupat digantungkan bersamaan dengan pisang sampai berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. Tapi tradisi ini sekarang sudah sangat jarang ditemukan.

Oh ya, ketupat juga enggak cuman hadir pas lebaran tapi masyarakat Bali pun sering menggunakan ketupat sebagai persembahan dalam sesajian upacara.

Terlepas dari benar atau tidaknya filosofi tersebut, Sobat Djadoel bisa mengambil sisi positifnya. Dan yang pasti menjelang lebaran, ayo siap-siap bikin ketupat. Kalau kata Inul Daratista, Lebaran tanpa ketupat ibarat seperti sayur tanpa garam, terasa hambar. Sobat Djadoel yang mau coba bikin ketupat sendiri, yuk diintip resepnya di sini Yuk, Bikin Ketupat Lebaran.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com