Lodong Teman Ngabuburit


sumber : http://ramadan.pikiran-rakyat.com/ffarm/ramadan/imagecache/big/ffarm/ramadan/2012/08/07/rmd-lodong.jpg

BULAN puasa identik dengan yang namanya ngabuburit. Kita bisa melakukan berbagai hal untuk ngabuburit ini dengan jalan-jalan ke mall, nonton tv, main musik, olah raga dan banyak lagi.

Tapi suasana ngabuburit zaman dulu sungguh sangat berbeda sekali dengan sekarang. Dulu ketika menjelang sore biasanya anak-anak berkumpul di lapangan bola atau tanah yang lapang. Di sana anak-anak banyak yang bermain bentengan, gobak sodor dan permainan tradisional lainnya.

Bagi anak laki-laki, selain main bentengan mereka juga suka bermain Lodong. Mainan yang berasal dari tanah Sunda ini adalah salah satu mainan anak Indonesia yang mengadopsi dari senjata-senjata kemiliteran zaman dulu. Cara membuatnya pun sangat mudah.

Pertama-tama cari bambo yang cukup besar dan sudah tua. Kemudian potong bambo dengan kisaran 1,5-2 meter (sesuai selera). Panjang pendeknya ini mempengaruhi besarnya suara yang dihasilkan. Semakin panjang bambunya, semakin menggelegar juga suara yang dihasilkan.

Setelah itu, lubangi bambo kurang lebih 10 cm dari arah pangkalnya dengan diameter sekitar ibu jari, ini nantinya dipakai untuk memasukkan karbit dan menyulut gasnya. Lalu, setiap ruas bambu yang berada di antara pangkal dan ujung bambu ini dilubangi menggunakan linggis. Jadi deh lodongnya, nah biar lebih menarik lagi Sobat Djadoel bisa mengecatnya sesuai keinginan masing-masing.

Kalau sudah beres semua, Sobat Djadoel tinggal memainkannya. Lodong cukup diisi dengan minyak tanah atau air kemudian masukan karbit sampai minyak tanahnya atau airnya mendidih. Setelah itu cukup disulut dengan api melalui lubang yang ada dipangkalnya, dan Duaaarrr… Jleger..!! Akan terdengar suara yang keras seperti meriam sungguhan.

Dulu bermain lodong ini biasanya di tanah yang lapang. Anak-anak dibagi menjadi dua grup dan ditempatkan di arah yang berlawanan. Jadi seperti mau berperang sungguhan. Setiap anak membawa lodongnya masing-masing jadi ketika dinyalakan akan seperti suara ledakan saat berperang. Setiap grup menyalakan lodongnya secara bergantian dan berusaha merobohkan tumpukan kaleng bekas minuman yang disusun di tengah lapangan. Tak jarang anak-anak yang berwajah cemong setelah bermain lodong.

Lodong ini bisa dimainkan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Tapi sayangnya sekarang permainan ini sudah mulai ditinggalkan anak-anak. Bahkan saat puasa tahun ini belum pernah terdengar suara Jleger..!! khas lodong. Sekarang mereka lebih memilih petasan dibandingkan lodong, dengan alasan petasan lebih praktis.

Kalau di daerah Sobat Djadoel, masih adakah yang bermain lodong? wink





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com