Tumpeng, Si Kerucut Kuning Khas Indonesia


BENTUKNYA kerucut seperti topi di acara ulang tahun, tapi si kerucut kuning ini bukan untuk dipakai di kepala seperti topi, tapi untuk dimakan. Sobat Djadoel mungkin sudah tahu yang namanya tumpeng. Ya, dialah si kerucut kuning yang menggiurkan dan dicintai banyak orang, bahkan oleh orang asing sekalipun.

Makanan lezat yang punya tampilan menarik ini sudah sangat terkenal di Indonesia. Tumpeng seakan menjadi menu wajib yang ada di acara-acara penting, seperti perayaan ulang tahun, kelahiran bayi, dan berbagai upacara selamatan lainnya.

Menurut Wikipedia, Tumpeng merupakan sebuah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut yang diletakan dalam tampah (seperti nampan besar dan bulat yang terbuat dari anyaman bambu). Sedangkan menurut kamus Baoesastra Djawa (1937) dan kamus jawa Kuna Indonesia (1981), tumpeng berarti ‘sega diwangun pasungan’ atau ‘nasi yang dibentuk kerucut untuk selamatan’.

Tapi ada juga yang menyebutkan bahwa tumpeng ini merupakan kependekan dari “tumapaking penguripan-tumindak lempeng-tumuju Pangeran”, yang berarti “berkibatlah pada pemikiran bahwa manusia itu harus hidup menuju jalan Allah”. Ini tidak lepas dari kepercayaan masyarakat Jawa tentang adanya kekuatan gaib di luar manusia yang bisa mempengaruhi kehidupan, yakni Tuhan. Oleh karena itu, mereka merasa perlu menjaga hubungan antara manusia dengan Tuhan agar terjadi keseimbangan dalam kehidupan mereka. Nah, caranya ini dengan melakukan selamatan.

Tumpeng sendiri sebenarnya berasal dari tradisi masyarakat Jawa kuno. Saat itu orang Jawa yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang atau arwah leluhur (nenek moyang) terinspirasi membuat sesembahan berupa makanan yang berbentuk seperti gunung, maka dibuatlah tumpeng ini. Setelah kebudayaan Hindu masuk ke Jawa, masyarakat selalu membuat nasi tumpeng setiap ada acara spesial.

Kebiasaan itu terus berlanjut sampai datangnya Islam ke Pulau Jawa. Tradisi tumpeng yang tadinya dipersembahkan untuk acara sesembahan kemudian dikaitkan dengan filosofi Islam, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Jadi setiap ada tradisi kenduri (syukuran, selametan), tumpeng selalu dibuat sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya berkah pada mereka. Dan nantinya tumpeng yang dibuat itu akan dimakan bersama-sama.

Setelah pembacaan doa, dalam sebuah acara syukuran ada sebuah tradisi yang harus dilakukan. Yakni, memotong pucuk tumpeng yang nantinya harus diberikan pada orang yang paling terhormat, atau yang paling dituakan, pokonya orang yang paling penting di antara orang-orang yang hadir. Hal tersebut dilakukan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut.

Oh ya Sobat Djadoel, ternyata dibalik bentuknya yang unik, tumpeng juga menyimpan pesan tersendiri. Bentuknya yang seperti gunung dan dikelilingi oleh berbagai macam lauk serta hiasan ini ternyata menyimbolkan sebuah ungkapan rasa syukur dan hormat dari orang yang membuatnya terhadap Allah di tempat tertinggi. Selain itu tumpeng juga melambangkan keharmonisan dan kerjasama antar struktur sosial yang beragam untuk mencapai aspirasi bersama mereka, yaitu kehidupan yang lebih baik diisi dengan kebahagiaan, kemakmuran, dan kesopanan.

Lauk yang menghiasi tumpeng ini banyak sekali macamnya. Mulai dari perkedel, abon, kedelai goreng, telur dadar/telur goreng, timun yang dipotong melintang, dan daun seledri. Ada juga yang pakai tempe kering, serundeng, urap kacang panjang, ikan asin dan masih banyak lagi. Nasi tumpeng biasanya berupa nasi kuning, walaupun juga ada beberapa yang menggunakan nasi putih biasa atau juga berupa nasi uduk.

Karena tumpeng memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering kali dijadikan sebagai kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun. Sekarang ini tumpeng hampir selalu ada dalam semua kegiatan, tidak hanya di Jawa tetapi juga seluruh Nusantara. Tumpeng selalu muncul dalam beragam bentuk dan kelengkapan.

Banyak cara untuk selalu beryukur atas kebaikan yang diberikan Tuhan kepada kita, salah satunya dengan tumpeng. Karena dengan tumpeng kita bisa menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan sekaligus merayakan kebersamaan dan kerukunan. 





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com