Indahnya Mengejar Layangan Putus


beberapa anak sedang bermain layangan, mengisi waktu liburan sekolah. (sumber:http://4.bp.blogspot.com/_DUm8ETQzz_g/S-EwcpbuhnI/AAAAAAAAANo/shEB_NYpfqE/s1600/layang2.jpg)

Kuambil buluh sebatang

Kupotong sama panjang

Kuraut dan kutimbang dengan benang

Kujadikan layang-layang

Bermain berlari

Bermain layang-layang

Berlari kubawa ke tanah lapang

Hatiku riang dan senang

(NN)

 

SOBAT Djadoel masih ingat dengan lagu di atas? Lagu anak zaman dulu tentang bagaimana membuat layang-layang. Lagu tersebut menjadi gambaran bagaimana indahnya masa kecil, walaupun hanya dengan bermain layang-layang.

Ngomongin soal layang-layang atau ada juga yang menyebutnya layangan, Sobat Djadoel pasti sudah tidak asing lagi kan? Itu tuh, lembaran bahan tipis berkerangka yang terhubung dengan tali atau benang sebagai pengendali, kemudian diterbangkan ke udara. Tahu enggak Sobat Djadoel kalau ternyata catatan pertama yang mengenalkan permainan layang-layang itu berasal dari dokumen Cina sekitar 2.400 tahun yang lalu. Diperkirakan dari Cina, layang-layang mulai disebarluaskan ke negara Asia lain seperti Korea, Jepang, Indonesia dan India. Bahkan, permainan layang-layang menyebar ke Barat hingga kemudian populer di Eropa.

Tapi, siapa sangka pada awal abad ke-21 Wolfgong Bick yang berasal dari Jerman dan merupakan salah seorang Counsultant of Kite Aerial Photography Scientific Use of Kite Aerial Photography menemukan sebuah lukisan di Gua Sugi Pantani, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Lukisan tersebut diperkirakan berusia 4000 SM, menggambarkan orang yang sedang bermain layang-layang. Dan sampai saat ini, penduduk di Pulau Muna masih melestarikan layang-layang khas Muna di mana rangkanya terbuat dari bambu bulu dan kertasnya dari daun kolope yang kemudian disatukan menggunakan lidi dari kulit batang waru. Sementara talinya terbuat dari serat nanas hutan yang dipilin.

Ternyata penemuan dari Wolfgong Bick itu mampu mematahkan klaim bahwa layangan pertama berasal dari Cina pada 2.400 tahun lalu. Layangan yang ditemukan di Cina menggunakan bahan kain parasut dan batang almunium. Sementara layangan dari Pulau Muna terbuat dari bahan alam dan telah menjadi bagian kehidupan masyarakatnya. Biek meyakini, layangan pertama di dunia berasal dari Muna, bukan dari Cina.

Oh ya, setiap negara juga mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda dalam menggunakan layang-layang lho. Memang pada umumnya layang-layang digunakan sebagai alat permainan, tapi kalau diteliti lebih lanjut terdapat fungsi lain dari layang-layang ini dan bukan sekedar alat permainan.

Misalnya di kawasan Asia, layang-layang kerap kali berkaitan dengan upacara keagamaan. Banyak layang-layang dari Cina dibuat menyerupai. Bentuk tradisional lainnya seperti burung, kupu-kupu, bahkan kelabang. Di Malaysia, menerbangkan layang-layang di atas rumah pada malam hari dipercaya dapat menjauhkan roh jahat. Di Korea, nama bayi yang baru lahir sering dituliskan pada layang-layang, lalu diterbangkan dan dibiarkan terlepas sendiri. Sementara di negeri Sakura (Jepang), layang-layang digunakan untuk mempersatukan penduduk desa. Mereka bergotong royong membuat layang-layang berukuran 120 yard persegi, kemudian bersama-sama menerbangkannya.

Di Eropa, layang-layang menjadi permainan anak-anak, namun hal ini tidak menarik perhatian yang serius sampai abad ke XVIII. Pada tahun 1749 seorang ilmuwan Scotlandia bernama Alexander Wilson menggunakan beberapa rangkaian layang-layang untuk mengukur temperatur udara pada ketinggian yang berbeda. Tiga tahun kemudian, dalam tahun 1752, Benjamin Franklin melakukan percobaannya yang sangat terkenal untuk membuktikan bahwa petir itu adalah listrik.

Sementara itu di beberapa daerah di Indonesia layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, seperti proses budidaya pertanian. Selain itu, beberapa daerah di Bali, sama seperti Jepang, juga menerbangkan layang-layang sebagai kegiatan sosial. Para penduduk desa bersama-sama membangun sebuah layang-layang yang sangat besar dan menerbangkannya beramai-ramai. Di Jawa Barat, Lampung dan beberapa tempat di Indonesia ditemukan layang-layang yang dipakai sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis anggrek tertentu yang dihubungkan dengan mata kail. Di Pangandaran dan beberapa tempat lain, layang-layang dipasangi jerat untuk menagkap kelelawar.

Di Indonesia bermain layang-layang biasanya dilakukan pada musim kemarau dimana langit yang cerah dan angin yang berhembus cukup kencang. Sore hari sepulang sekolah biasanya anak-anak mulai berdatangan ke tanah lapang dan mulai menenerbangkan layang-layang. Tak jarang ada juga yang menaikkan layang-layang dari atap rumahnya. Ini dilakukan karena angin di atas atap rumah berhembusnya lebih kencang dibandingkan dengan di bawah, jadi lebih mudah menerbangkannya .

Dalam bermain layangan juga diperlukan strategi, keterampilan dan penentuan waktu yang tepat untuk menarik, mengulurkan, dan memotong benang lawan lho Sobat Djadoel. Oh ya, jangan salah lho bermain layangan juga ternyata mampu melatih mata kita, sedangkan berkegiatan di luar juga dapat mengurangi obesitas. Meskipun gerakannya tidak terlalu banyak, namun cukup menguras keringat jika dilakukan dengan durasi lebih dari setengah jam. Paling tidak, gerakan menarik dan mengulurkan benang layangan melatih syaraf motorik. Menaikkan layangan juga melatih kesabaran. Sabar menunggu adanya angin. Sabar menunggu layangan terbang ke atas baru memanjangkan lagi benangnya. Sabar menantinya terbang dengan tenang sebelum menariknya.

Bermain layangan itu seperti sebuah paket berharga pada zaman dulu di mana terdengar canda tawa anak-anak dikala menerbangkan layangannya atau pada saat mengejar layangan yang putus karena kalah. Anak-anak akan berebutan untuk mendapatkan layangan yang kalah itu. Meski sekarang masih ada yang memainkannya, tapi tidak terlalu banyak karena sekarang lapangan pun sudah sulit ditemukan. Sudah terlalu banyak gedung-gedung tinggi yang memadati perkotaan atau perkampungan. Anak-anak zaman sekarang hanya sedikit yang merasakan serunya bermain layangan.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com