Sirit Uncuing, Burung Pertanda Kematian Yang Licik


sumber (http://alamendah.files.wordpress.com/2011/09/wiwik-kwlabu-kedasih-cacomantis-merulinus.jpg)

BANYAK sekali orang yang menjadikan burung sebagai binatang peliharaannya. Selain bisa diperjualbelikan, suara merdu dari kicauannya pun bisa menghilangkan stres dari berbagai rutinitas pekerjaan. Tapi tak semua burung bisa dipelihara dan dinikmati kicauaannya. Ada satu burung yang mungkin tak pernah dijadikan peliharaan oleh banyak orang, bahkan mendengar suaranya saja bisa membuat orang ketakutan. Burung ini memiliki nama beragam di beberapa daerah, ada yang menyebutnya burung kedasih, daradasih, untit-untit, sirit uncuing, uncuing, bahkan sampai burung orang meninggal. Hihhh, nama yang terakhir sedikit menyeramkan.

Sesuai dengan nama yang diberikan oleh banyak orang, burung ini memang dipercaya sebagai burung pertanda kematian. Konon jika terdengar suara burung ini di suatu tempat, maka di tempat itu akan ada orang yang meninggal dalam waktu dekat. Tapi sepertinya ini hanya mitos belaka yang sulit dibuktikan dengan kajian ilmiah. Mitos seperti ini juga melekat pada burung gagak. Jadi, burung apakah Sirit Uncuing ini?

Sirit Uncuing atau yang lebih kita kenal dengan nama Kedasih ini sebenarnya termasuk suku kangkok (Cuculidae). Burung jenis ini sering sekali ditemukan di lingkungan pedesaan yang masih memiliki hutan tepi atau hutan sekunder. Tapi juga kerap dijumpai di lingkungan perkotaan yang memiliki taman yang lumayan hijau.

Burung ini memiliki suara khas yang mendayu-dayu, dengan nada yang meninggi di awal dan kemudian semakin menurun dan semakin pendek di akhir. Meski suaranya sering terdengar, tapi sangat sulit untuk bisa melihat burung ini. Karena ia kerap bersembunyi di pohon yang lebat tanpa bergerak, sehingga sulit untuk bisa melihatnya. Sebagian orang merasa kicauannya tersebut seperti suara kuntilanak yang sedang tertawa.

Burung yang mempunyai nama ilmiah Cacomantis Merulinus ini berukuran relatif kecil, panjang tubuhnya hanya sekitar 21 cm. Ketika dewasa burung ini akan berwarna kelabu dibagian kepala, leher dan dada bagian atas. Punggungnya berwarna merah kecokelatan serta berwarna kuning jingga di bagian perutnya. Sedangkan ekornya berwarna putih dengan sedikit kehitaman di ujung-ujung bulunya. Sirit Uncuing yang masih muda atau biasa disebut piyik, biasanya memiliki warna burik kecokelatan dengan garis-garis hitam dibagian atas tubuh dan warna putih dengan garis hitam halus.

Seperti burung dengan marga Cacomantis lainnya, sirit uncuing juga memiliki sifat parasit yang bisa dibilang sangat kejam. Burung pemakan serangga dan buah-buah kecil ini selalu menitipkan telurnya di sarang burung lainnya yang berukuran lebih kecil. Jadi sirit uncuing tidak pernah membuat sarangnya sendiri untuk bertelur. Bahkan yang mengerami telurnya juga bukan induk aslinya, tapi induk yang punya sarang atau bisa disebut induk tiri.

Kekejaman burung ini tak berhenti disitu. Kadang setelah menitipkan telurnya disarang burung lain, ia akan membuang telur asli si yang punya sarang. Seperti pepatah ‘buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya’, anak burung sirit uncuing juga sama kejamnya. Jika telur Sirit Uncuing lebih dulu menetas dibanding telur asli yang punya sarang, maka ia akan menjatuhkan telur asli si yang punya sarang atau mematukinya hingga telur itu pecah dan tidak bisa menetas. Ibu dan anak sama-sama licik.

Setelah menjadi anak tunggal induk tirinya, piyik kedasih akan dirawat dan diberi makan sampai dewasa. Pertumbuhannya juga akan pesat karena induk tirinya hanya mengurus satu anak yang sebenarnya bukan anaknya dia (kasihan burung itu). Setelah dewasa sirit uncuing akan kawin dan menitipkan telur di sarang burung lainnya sama seperti yang dilakukan sang ibu.

Begitulah kejamnya burung sirit uncuing alias kedasih ini. Jangan dititu ya, Sobat Djadoel, hehe smiley





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com