Gerakan 30 September 1965 atau G302S/PKI


MUNGKIN benar pepatah yang bilang “mempertahankan sesuatu itu lebih sulit daripada mendapatkannya”. Ini terbukti dengan banyaknya rintangan pada awal kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah berhasil merdeka dari penjajahan, Indonesia terus didera berbagai cobaan baik dari luar dan dalam negeri. Salah satu kejadian yang sangat memilukan bagi Indonesia adalah adanya Gerakan 30 September 1965 yang konon didalangi PKI (Partai Komunis Indonesia).

Bagi Sobat Djadoel angkatan 80 sampai 90-an awal, pasti masih ingat dengan kejadian itu. Karena selain diajarkan di pelajaran sejarah sekolah, setiap tanggal 30 September juga selalu ada film G30S/PKI yang diputar di TVRI. Biasanya film ini ditayangkan sekitar jam setengah delapan malam setelah acara Berita Nasional TVRI.

Gerakan 30 September atau yang lebih kita kenal dengan G-30S/PKI sebenarnya adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada malam tanggal 30 September sampai awal 1 Oktober 1965. Dimana pada saat itu enam perwira tinggi militer Indonesia dan beberapa orang lainnya dibunuh secara sadis oleh PKI untuk mengudeta pemerintah Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai Negara komunis.

Sebagai catatan, PKI ini adalah partai komunis terbesar ketiga setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Angotanya diperkirakan berjumlah 20 juta dan tersebar di seluruh Indonesia. Saat itu PKI juga mengontrol berbagai organisasi masyarakat, mulai dari pergerakan serikat buruh, pergerakan petani, organisasi pemuda, sampai organisasi penulis dan pergerakan sarjananya. Bahkan ada beberapa anggota PKI yang masuk ke pemerintahan secara resmi.

Awalnya PKI dan pemerintahaan saat itu baik-baik saja, bahkan PKI terus mendukung beberapa keputusan pemerintah. Tapi setelah itu terjadi beberapa gesekan yang menimbulkan beberapa bentrokan antara aktivis PKI dan polisi serta militer pemerintah. Dari tahun 1963, para pemimpin PKI terus berusaha mengindari bentrokan-bentrokan itu tapi tidak berhasil. Hingga pada awal 1965, para buruh yang termasuk aktivis PKI mulai menyita perusahaan-perusahaan karet dan minyak milik AS.

Setelah itu keadaan semakin memanas dan aksi saling menculik serta membunuh mulai terjadi. Banyak perwira TNI, perwira polisi dan beberapa tokoh agama di sekitar Kota Madiun yang diculik dan dibunuh. Hingga puncaknya terjadi pada malam 30 September 1965, dimana para petinggi militer Indonesia seperti Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI Raden Suprapto, Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo dan Jenderal TNI Abdul Harris Nasution diculik dan disiksa sebelum akhirnya dibunuh. Jasad para jenderal itu kemudian dimasukkan ke sumur Lubang Buaya sebelum akhirnya ditemukan pada 3 Oktober 1965.

Selain itu, ada beberapa korban lainnya yang tewas dalam usaha pembunuhan ini, seperti Bripka Karel Satsuit Tubun, Kolonel Katamso Darmokusumo, Letkol Sugiyono Mangunwiyoto, dan putri Jenderal A.H. Nasution yaitu Ade Irma Suryani serta ajudan beliau yang bernama Lettu CZI Pierre Andreas Tendean.

Keadaan tidak kunjung membaik, bahkan bisa dibilang lebih parah. Setelah Soekarno melantik Soeharto menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat pada 16 Oktober 1965 dan memberinya kekuasaan tak terbatas melalui Surat Perintah Sebelas Maret atau yang kita kenal dengan Super Semar pada 11 Maret 1966, terjadilah pembunuhan secara besar-besaran terhadap anggota PKI.

Semua orang yang diduga terlibat dan mendukung PKI dibunuh dan dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi. Begitu juga orang keturunan Tionghoa yang diduga aktivis PKI. Pembunuhan ini terjadi dimana-mana, sebut saja Surabaya, Sumatra Utara, Bali dan daerah lainnya. Korban yang dibantai oleh pemerintah ini diperkirkan berjumlah 500 ribu orang sampai tiga juta orang. Saking banyaknya korban, Sungai Brantas di Surabaya sampai penuh dan terbendung oleh manyat. Begitu juga di Sumatra Utara yang di beberapa bagian tercium bau busuk mayat yang berserakan dimana-mana.

Sejauh ini kita mengetahui bahwa dalang dibalik peristiwa G30S/PKI ini adalah Partai Komunis Indonesia, sebagaimana yang selalu diajarkan dalam pelajaran sejarah. Namun, belakang ini ada beberapa pihak yang menyangsikan hal tersebut. Sejumlah orang merasa tuduhan pemerintah terhadap PKI dibalik peristiwa itu sebetulnya hanya rekayasa pemerintah Orde Baru, khususnya Soeharto yang hanya ingin menjungkalkan Soekarno dan menjadikan Soeharto sebagai presiden.

Tapi balik lagi Sobat Djadoel mau percaya yang mana, karena semuanya belum ada bukti nyata. Yang jelas kita harus mengutuk segala kekejaman yang terjadi di bumi ini. Dan jangan percaya pada sejarah begitu saja, sebelum menemukan bukti yang sebenarnya.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com