Seribu Pintu, Lawang Sewu


Lawang Sewu, Bunderan Tugu Muda Semarang (sumber:http://wikipedia.org)

LAWANG Sewu. Gedung yang terletak di bundaran Tugu Muda Semarang itu namanya mulai mencuat setelah dipakai menjadi tempat uji nyali di salah satu acara reality show televisi swasta. Sekarang Kang Adoel sama Teh Lulu akan mengajak Sobat Djadoel berkelana ke gedung yang kata banyak orang menyeramkan ini.

Sobat Djadoel, saat Kang Adoel dan Teh Lulu melihatnya, kami berdua sangat takjub. Karena bangunan yang sudah ada sejak zaman dulu ini tetap berdiri kokoh dengan banyaknya kaca-kaca besar serta pintu yang menghiasi bangunan tersebut sehingga membuatnya terlihat begitu megah. Ya, walaupun memang sedikit agak menyeramkan, mungkin dikarenakan bangunan ini adalah bangunan lama yang menyimpan ribuan kisah mulai dari zaman pemerintahan kolonial Belanda, pemerintahan Jepang, hingga pemerintahan Indonesia.

Gedung Lawang Sewu merupakan salah satu gedung bersejarah di Indonesia. Penamaan Lawang Sewu sendiri, yang dalam bahasa Jawa berarti Seribu Pintu, yaitu untuk menggambarkan jumlah pintu yang teramat banyak dalam bangunan tersebut. Karena sebenarnya jumlah pintu di Lawang Sewu itu tak mencapai hingga seribu. Pantas saja dinamakan Lawang Sewu  soalnya di sini banyak banget pintu dan jendela-jendela besar yang terlihat seperti pintu.

Bangunan bersejarah ini dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda pada 27 Februari 1904 sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta NIS. Sebelumnya kegiatan administrasi perkantoran NIS dilakukan di Stasiu Samarang NIS. Untuk rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang, NIS mempercayakannya kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, kemudian segala kelengkapan gambar kerja yang telah ditandangani di Amsterdam pada tahun 1903 dibawa ke Kota Semarang. Pembangunan gedung pun selesai pada tahun 1907.

Setelah Gedung ini pernah digunakan sebagai Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta NIS, Lawang Sewu juga kemudian pernah digunakan sebagai penjara bawah tanah oleh serdadu Jepang. Gedung ini sempat menjadi saksi kekejaman Jepang. Ruangan-ruangan yang digunakan pada pemerintahan Belanda banyak dilaihfungsikan oleh pemerintahan Jepang. Seperti pada lantai tiga, kalau pada pemerintahan Belanda lantai tersebut digunakan sebagai gudang, lain halnya pada pemerintahan Jepang. Pada pemerintahan Jepang lantai tersebut digunakan sebagai ruang penyiksaan.

Lalu, di lantai bawah tanah yang dulunya dijadikan sebagai tempat penampungan air oleh para tentara Belanda, dijadikan sebagai tempat penyiksaan dan penjara. Kalau Sobat Djadoel mau melihat bagian bawah tanah ini, Sobat Djadoel akan dikenakan biaya tambahan. Di sini Sobat Djadoel bisa melihat penjara berdiri, penjara jongkok, tempat pemasungan kelapa, dan perantai badan. Nah, kalau penjara berdiri itu untuk para tahanan yang kebanyakannya adalah orang Indonesia. Sebanyak enam tahanan dimasukkan ke dalam ruangan kurang lebih berukuran 1 x 1 meter. Kemudian ruangan tersebut akan diisi air hingga selutut dan para tahanan dikurung berdiri. Dengan ukuran sesempit itu para tahanan tidak mungkin untuk jongkok karena jika mereka jongkok maka mereka akan terendam air. Para tahanan itu dikurung di dalam penjara berdiri sampai meninggal. Ya ampun, kejamnya ya.

Kalau di penjara jongkok, para tahanan harus berjongkok di dalam ruangan yang kurang lebih memiliki lebar 1,5 meter dan tinggi 1 meter. Yang dimasukkan ke dalam ruangan hanya sebanyak tujuh atau delapan orang. Mereka juga dikurung di sana sampai meninggal. Lalu, ada juga tempat pemasungan kepala. Tempat itu digunakan untuk para tahanan yang membandel. Kepala mereka akan dipasung di dalam sebuah bak yang kemudian badan serta kepalanya secara diam-diam ditenggelamkan ke sungai bawah tanah. Dan satu lagi, perantai badan yang ada di ruang bawah tanah sebagai tempat merantai badan untuk menyiksa para tahanan. Mereka biasanya dicambuk, disundut rokok, atau cara-cara sadis lainnya.

Wuih, Sobat Djadoel, ngeri banget ya waktu zaman pemerintahan Jepang. Semoga tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti itu lagi. Setelah kemerdekaan, gedung Lawang Sewu tidak digunakan lagi oleh Jepag tetapi digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKAKRI) atau sekarang dikenal sebagai PT Kereta Api Indonesia. Selain itu juga pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Perhubungan Jawa Tengah.

Oh ya, Sobat Djadoel, pada masa perjuangan pun gedung ini pernah dijadikan sebagai lokasi Pertempuran lima hari di Semarang, yaitu pada 14 Oktober – 19 Oktober 1945. Gedung megah ini juga pernah menjadi lokais pertempuran hebat antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan satuan polisi militer Jepang yang ditempatkan di daerah jajahan atau biasa disebut Kempetai dan Kidobutai. Karena Lawang Sewu memiliki kisah sejarah dari awal pembangunan hingga setelah kemerdekaan, maka pemerintah Kota Semarang dengan berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992 Lawang Sewu djadikan sebagai salah satu bangunan kuno atau bersejaran di Kota Semarang yang patut dilindungi. Dan saat ini, bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero.

Lawang Sewu, sekarnag sudah menjadi tempat wisata yang bayak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah maupun negara. Gimana Sobat Djadoel, berani enggak berwisata sekaligus merasakan sensasinya saat menjelajahi bangunan seribu pintu ini? Yuk, kita mulai berkelana lagi.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com