Melepas Penat di Kampung Naga


http://media.viva.co.id/thumbs2/2012/08/14/167527_suasana-kampung-naga_663_382.JPG

PERNAHKAH Sobat Djadoel merasa penat dan bosan dengan rutinitas di kota metropolitan yang setiap hari macet, penuh polusi dan cuaca yang panas? Atau mungkin sekarang sedang mengalaminya? Jika begitu mungkin sudah saatnya Sobat Djadoel pergi berlibur ke Kampung Naga. Kok, harus Kampung Naga? Apa istimewanya kampung ini?

Jangan salah Sobat Djadoel, kampung yang berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya ini adalah salah satu kampung adat yang ada di Indonesia. Suasana di kampung ini masih sangat asri dan tenang, karena masyarakat Kampung Naga masih menjaga dan menjalankan adat istiadat warisan leluhurnya. Jadi sangat cocok jika kampung ini dijadikan sebagai tempat untuk menenangkan diri, apalagi udaranya masih sangat segar.

Tidak ada catatan sejarah kapan dan siapa pendiri Kampung Naga. Ini dikarenakan arsip-arsip sejarah milik warga Kampung Naga sudah hangus terbakar pada saat pembumihangusan Kampung Naga tahun 1956. Tapi ada beberapa orang yang menyebutkan sejarah Kampung Naga bermula saat seorang abdi Sunan Gunung Jati yang bernama Singaparna bertugas untuk menyebarkan agama Islam ke wilayah barat. Sampai akhirnya Singaparna menetap di daerah Neglasari yang menjadi Kampung Naga sekarang.

Masyarakat Kampung Naga sendiri menyebut Singaparna dengan panggilan Eyang Galunggung atau Sembah Dalem Singaparna. Mereka percaya bahwa Eyang Galunggung ini adalah nenek moyangnya yang meninggal tanpa jejak. Jadi tak heran jika di kampung ini ada sebuah makam yang konon adalah makam Eyang Galunggung. Sobat Djadoel bisa melihat makam ini di hutan keramat yang berada di sebelah barat kampung.

Karena masih mempertahankan adat istiadat warisan leluhurnya, masyarakat Kampung Naga masih percaya dengan adanya ‘Pamali’ atau pantangan. Mereka juga selalu menolak semua hal dari luar yang dianggap bisa merusak kelestarian kampungnya. Jadi jangan heran jika Sobat Djadoel tidak menemukan peralatan elektronik atau kendaraan bermotor di kampung ini. Semua pekerjaan dilakukan secara manual, bahkan untuk penerangan di malam hari saja masyarakat kampung naga masih memakai lampu minyak.

Selain itu pemangku adat Kampung Naga juga melarang warganya untuk mengisi rumahnya dengan perabotan seperti kursi, meja, dan tempat tidur. Bahkan bentuk rumahnya pun harus panggung yang terbuat dari bambu dan kayu dengan atap terbuat dari ijuk atau alang-alang. Rumahnya juga harus menghadap ke utara atau selatan dengan memanjang ke arah timur dan barat dengan dinding terbuat dari anyaman bambu. Selain itu, rumahnya juga tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni.

Masyarakat Kampung Naga juga masih percaya dengan adanya hari Larangan Bulan (palintangan). Dimana di dalam satu bulan itu ada beberapa hari yang dianggap sebagai hari buruk untuk melaksanakan seuatu yang sangat penting seperti membangun rumah, perkawinan dan upacara adat.

Jadi enggak salah deh kalau Sobat Djadoel memilih Kampung Naga sebagai tempat liburan. Selain tempatnya yang masih sangat asri, masyarakat Kampung Naga juga sangat ramah kepada wisatawan. Dijamin pikiran akan kembali fresh dan siap menghadapi rutinitas sehari-hari. Ayo Jelajah Indonesia!!!





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com