Menara Loji Yang Terlupakan


(sumber foto: djamandoeloe.com)

SEKARANG ini Jatinangor dikenal sebagai daerah pendidikan. Bisa dilihat dari banyaknya perguruan tinggi dan sekolah yang ada di wilayah ini. Contohnya UNPAD, IPDN, bahkan sekarang ITB pun membangun kampus di wilayah yang termasuk Kabupaten Sumedang ini.

Seperti wilayah-wilayah di Indonesia lainnya yang dulu dikuasai oleh Belanda, Jatinangor juga memiliki bangunan peninggalan Belanda yang sampai saat ini masih bisa dilihat oleh Sobat Djadoel semua. Salah satunya adalah Menara Loji.

Pada tahun 1841, seorang pria berkebangsaan Jerman bernama Barond Baud bersama perusahaan swasta milik Belanda mendirikan perkebunan karet di wilayah Jatinagor yang luasnya mencapai 962 hektar. Saking luasnya, untuk mengontrol perkebunan ini Baron Baud membangun sebuah menara yang dilengkapi sebuah lonceng di bagian atasnya. Dari atas ia bisa melihat seluruh perkebunannya dan mengawasai para petani yang sedang menyadap karet dan memetik teh.

Lonceng yang ditaruh di atas menara ini ternyata bukan hanya untuk aksesoris semata, tapi lonceng ini sangat berguna sebagai penunjuk waktu. Lonceng ini akan berbunyi pada pukul 05.00 dan menandakan waktunya para pekerja untuk mulai menyadap karet. Kemudian lonceng ini juga akan berbunyi pada pukul 10.00, ini menandakan waktunya para pekerja untuk mengambil mangkuk-mangkuk yang telah terisi getah karet. Dan bunyi lonceng terakhir akan terdengar sekitar jam 14.00, ini waktunya para pekerja untuk pulang ke rumahnya.

Saksi bisu Jatinangor tempoe doeloe yang satu ini masih bisa Sobat Djadoel lihat di wilayah kampus ITB Jatinangor atau lebih tepatnya di pekarangan gedung PMI. Menara yang berwarna putih dan bergaya neo gothic Belanda ini memiliki atap berbentuk segi delapan dan mengerucut di bagian atasnya dengan hiasan garpu tiga jari seperti senjata trisula.

Sebelum menjadi bagian dari gedung PMI Jatinangor, menara ini seolah tidak terurus. Banyak sekali coretan-coretan tangan jahil dan disekitar menara banyak ditumbuhi rumput-rumput liar. Bahkan lonceng yang dulu menghiasi bagian atas menara ini sudah tidak ada lagi karena telah dicuri pada tahun 1980-an dan sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya.

Seharusnya kita bisa menghargai dan menjaga aset sejarah sekecil apapun. Karena seperti kata sebuah pepatah, “Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Menghargai Sejarahnya”. Sayang kan kalau aset sejarah negara kita dicuri dan dirusak seperti itu. Jadi, mari kita jaga dan pelihara semua aset sejarah yang ada di Indonesia. 





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com