Seni Ketangkasan Domba Garut


http://duduul.com/brewok/wp-content/uploads/2015/07/info-peternakan-domba-garut-di-indonesia-saat-ini.jpg

JAWA Barat yang terkenal dengan suku Sunda-nya ini ternyata sangat kaya akan seni dan budaya. Salah satunya adalah kesenian yang melibatkan hewan seperti Seni Ketangkasan Domba Garut.

Seperti bisa dilihat dari namanya, kesenian yang satu ini memang berasal dari daerah Garut yang telah diwariskan secara turun-temurun sampai saat ini. Dalam Seni Ketangkasan Domba Garut selalu dipetandingkan beberapa domba yang diadukan dengan domba lainnya. Domba yang diadu juga bukan sembarang domba loh, melainkan domba jenis tertentu yang hanya memiliki label domba Garut.

Domba Garut memang berbeda dari domba-domba yang ada di Indonesia. Domba yang memiliki nama latin Ovis Aries ini adalah domba hasil persilangan dari tiga jenis domba, yakni domba lokal (Indonesia), domba Merino yang berasal dari Asutralia dan domba Capstaad dari Afrika Selatan. Jadi tak heran jika domba Garut ini disebut domba yang unggul dan memiliki berbagai ciri khas yang tidak dimiliki domba lainnya.

Karakteristik dari domba Garut adalah adanya tanduk mamprang (tanduk yang besar dan kokoh) serta badannya yang besar dan lumayan tinggi. Selain itu domba Garut juga memiliki sifat yang cenderung agresif dengan stamina yang kuat sehingga sangat cocok dijadikan domba adu. Bahkan domba gagah yang satu ini beratnya bisa mencapai 60-80 Kg. Selain itu, domba Garut juga dikenal sebagai domba yang cerdas. Ini terbukti pada saat pertandingan, domba-domba Garut sangat mudah untuk mengikuti aba-aba dan kode yang diberikan wasit pertandingan dan pelatih mereka.

Kembali ke Seni Ketangkasan Domba Garut. Sebelum para domba berlaga dalam arena, domba-domba yang jadi peserta biasanya dibagi menjadi kelas A, kelas B, dan kelas C sesuai dengan berat badan domba. Setelah itu mereka akan diadu sampai ada satu juara di setiap kelasnya.

Peraturan lainnya dalam pertandingan domba ini adalah adanya batasan jumlah pukulan dalam satu pertandingan. Untuk kelas A jumlah pukulan maksimalnya 20 kali, untuk kelas B 15 kali dan untuk kelas C dibatasi maksimal 10 kali per pertandingan. Aturan ini dimaksudkan agar domba tidak tersakiti dan bisa bertarung dengan lawan yang sepadan.  

Dalam setiap laga ketangkasan selalu dipimpin oleh seorang wasit dan diawasi oleh dewan hakim, dan dewan juri. Biasanya setiap pertandingan dibagi ke dalam dua ronde, dan masing-masing ronde terdiri dari sepuluh kali tumbukan kepala untuk kelas A.

Yang unik dari laga ketangkasan ini adalah adanya musik tradisional Sunda yang selalu setia mengiringi setiap kali domba sedang bertanding. Bahkan tak jarang si pemilik/juragan domba dan sang wasit pun ikut menari untuk memeriahkan suasana. Selain itu para juragan yang datang biasanya mengenakan pakaian hitam-hitan dengan ikat kepala khas Sunda. Atau juga sering dujumpai juragan yang memakai topi koboy.

Untuk menetukan seekor domba layak jadi juara atau tidak, selain melihat kualitas pukulan sang domba, dewan juri juga harus mempertimbangkan berbagai kriteria lainnya seperti gaya bertanding, ketangkasan, keindahan fisik, kelincahan, dan banyak lagi. Jadi jangan heran jika domba Garut selalu tampil rapi dengan berbagai aksesoris, bahkan setiap harinya domba Garut selalu diberi makan rumput jenis tertentu yang ditambah dengan madu supaya stamina dan penampilannya selalu maksimal.

Perawatan yang ekstra itu akan terbayar jika domba tersebut bisa menjadi juara. Karena dengan jadi juara, nilai jual sang domba bisa naik sangat tajam mencapai puluhan juta bahkan sampai ratusan juta rupiah. Nilai yang sangat fantastis untuk seekor domba.  

Jadi tak heran jika banyak orang yang memilih menjadi peternak domba Garut. Selain bisa melestarikan budaya asli Indonesia, masalah dompet pun bisa teratasi. Gimana Sobat Djadoel, tertarik dengan domba yang satu ini?





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com