Wage Rudolf Soepratman


sumber (http://www.kidnesia.com/var/gramedia/storage/images/kidnesia/indonesiaku/propinsi/jawa-tengah/tokoh/wage-rudolf-supratman/1055326-1-ind-ID/Wage-Rudolf-Supratman_kidnesiathumb630x368.jpg)

SEDIH, saat seorang anak SMA ditanya siapakah pencipta lagu Indonesia Raya di sebuah acara televisi swasta, ia menjawab dengan percaya dirinya, “Soekarno”. Anak SMA loh yang jawabnya, haduh separah itukah pengetahuan anak zaman sekarang? Sampai-sampai tidak tahu siapa pencipta lagu Indonesia Raya.

Oke, melihat tayangan tersebut djamandoeloe.com akan membahas siapa sosok pencipta lagu Indonesia Raya agar anak-anak zaman sekarang enggak ada yang bingung lagi.

Sosok itu adalah Wage Rudolf Supratman atau lebih dikenal dengan W.R Supratman. Ia adalah seorang komposer lagu Indonesia Raya sekaligus pahlawan nasional yang dulu sangat aktif dalam pergerakan pemuda dalam meraih kemerdekaaan. Ia juga merupakan orang dibalik terciptanya lagu Ibu Kita Kartini.

Ada beberapa versi mengenai dimana dan kapan ia dilahirkan. Yang pertama menyebutkan bahwa W.R Supratman lahir di Maester Cornelis (sekarang, Jatinegara Jakarta) pada 9 Maret 1903. Yang kedua menyebutkan bahwa ia lahir di Dsn. Trembelang, Kel. Somongari, Purwerojo 19 Maret 1903. Karena kontroversi itulah ada beberapa versi cerita mengenai kehidupannya.

Dari versi yang kedua, diketahui bahwa ia adalah anak ketujuh dari pasangan Mbok Senen dengan Partodikromo yang bekerja sebagai serdadu Belanda. Ia sendiri diberi nama wage oleh kedua orang tuanya, ini dikarenakan ia lahir bertepatan dengan hari pasaran wage dalam kalender perhitungan Jawa. Ia hanya sebentar tinggal di Purworejo, karena tak lama setelah dilahirkan ia dan ibunya dibawa oleh sang kaka, Soepartijah, yang telah menikah dengan Willem van Eldik ke Jatinegara, Jakarta. Di sinilah Wage kemudian dibuatkan surat akta lahir dan namanya berubah menjadi Wage Rudolf Supratman.

Pada tahun 1914, ia kemudian dibawa oleh keluarga Eldik ke Makasar. Di sana ia melanjutkan sekolahnya di Normaal school sampai selesai, setelah sebelumnya disekolahkan di sekolah Belanda. Di umurnya yang ke-20 tahun, ia telah menjadi guru di Sekolah Angka 2. Dua tahun berselang ia mendapat ijazah Klein Ambtenaar. Dan pada tahun 1924 ia berkerja sebagai wartawan di sebuah harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita yang ada di Bandung.

Meskipun ia dibesarkan di kalangan orang Belanda, namun jiwa patriotnya sangat kuat. Sejak bergabung dengan harian Kaoem Moeda, ia mulai tertarik dengan pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan. Ia juga kemudian terpacu untuk membuat sebuah lagu kebangsaan yang kemudian kita kenal dengan lagu Indonesia Raya.

Kepandaiannya bermain musik dan membuat lagu tak bisa lepas dari pengaruh kakak iparnya yang sangat senang dengan musik. Selama tinggal bersama kakak iparnya ia juga belajar bermain biola dan selalu membaca buku-buku musik.

Tak disangka, untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dibawakan pada acara Kongres Pemuda II di Jakarta 28 Oktober 1928, lagu ini selalu dinyanyikan setiap ada rapat partai-partai politik atau pertemuan kelompok pemuda. Dan menjadi lagu yang sangat terkenal di kalangan pergerakan nasionalis.

Karena lagu itu pula ia selalu diburu oleh pihak Belanda sampai ia jatuh sakit. Ia juga sempat ditahan di Penjara Kalisosok, Surabaya karena menyiarkan lagu “Matahari Terbit” di NIROM Surabaya. Tujuh tahun sebelum kemerdekaan Indonesia yakni pada 17 Agustus 1938, ia meninggal dunia di Surabaya. Dan sekarang lagu ini dijadikan lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini pun kerap dinyanyikan pada upacara penaikan bendera.

Kita seharusnya bisa mencontoh pahlawan nasional yang satu ini. Meskipun ia tidak sempat mencicipi kemerdekaan, tapi perjuangannya untuk bebas dari penjajah sangatlah besar. Bahkan lewat sebuah lagu, ia bisa mengobarkan semangat nasionalis pemuda Indonesia. Semangaaat, Sobat Djadoel wink





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com