Sejuknya Rumah Adat Sunda


sumber (http://1.bp.blogspot.com/-3B8_uuYeaQo/TwEHpS9YSlI/AAAAAAAAAhE/ZKfagm6JjSs/s400/WL_var+254.JPG)

RUMAH adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan manusia dan telah menjadi kebutuhan primer disamping sandang dan pangan. Fungsi dan bentuk rumah pun telah berubah seiring berkembangnya zaman. Berbeda dengan sekarang, rumah-rumah zaman dulu kebanyakan terbuat dari kayu dan bambu seperti pada rumah adat sunda.

Bentuk bangunan rumah adat sunda pun sangat beragam, tetapi pada umumnya bangunan rumah adat sunda berbentuk panggung dengan kaki-kakinya yang terbuat dari batu persegi atau dalam bahasa Sunda disebut batu tatapakan. Ketinggian rumah panggung sunda biasanya berkisar antara 50 cm sampai 1 m dari atas tanah. Bukan tanpa alasan orang Sunda membuat rumahnya agak tinggi, selain untuk mencegah bahaya dari binatang liar dan banjir, bentuk panggung juga bisa memberi kesejukan di siang hari dan kehangatan di malam hari.

Dalam rumah adat Sunda biasanya terbagi menjadi tiga bagian, yakni bagian hareup (depan), tengah dan bagian tukang (belakang). Untuk bagian depan orang Sunda menyebutnya dengan tepas atau emper. Bagian ini sering digunakan untuk menerima tamu laki-laki. Di bagian depan ini juga biasanya ada sebuah kamar khusus untuk tamu.

Untuk bagian tengah selain ada kamar untuk yang punya rumah, juga ada ruangan untuk berkumpul sesama penghuni rumah. Dan di bagian belakang biasanya dijadikan dapur dan sebuah ruangan yang disebut goah (tempat untuk menyimpan hasil panen). Dapur juga sering digunakan untuk menyambut tamu perempuan. Karena dalam adat sunda, bagian depan rumah dikhususkan untuk laki-laki dan bagian belakang untuk perempuan. Jadi tak heran jika laki-laki dianggap tabu jika masuk ke dapur, apalagi kalau masuk ke goah.

Rarangkay atau kerangka rumah adat sunda kebanyakan terbuat dari kayu. Rangkay ini biasanya terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian atas ‘suhunan’ (bubungan), bagian tengah yang disebut badan, dan bagian bawah yang disebut ‘salasar’ (lantai).

Untuk ‘suhunan’ (bubungan) ada berbagai bentuk dan namanya juga berbeda-beda. Ada yang disebut Julang Ngaplak, Parahu Kumureb, Jolopong, Tagog Anjing dan banyak lagi. Untuk bagian atap biasanya terbuat dari ijuk atau daun enau, tapi belakangan ini sudah banyak rumah adat Sunda yang memakai genting.

Untuk dinding rumahnya, orang Sunda selalu menggunakan anyaman bambu yang disebut bilik. Motifnya bermacam-macam, ada yang anyaman sasag ada juga anyaman kepang. Sedangkan untuk lantai rumah, selain menggunakan papan ada juga orang yang menggunakan palupuh (batang bambu yang dibelah dan dicacah tapi tak sampai terpisah). Karena papan dan palupuh inilah rumah adat Sunda selalu sejuk dan memiliki sirkulasi udara yang baik meskipun rumahnya hanya memiliki sedikit jendela.

Yang unik dari rumah adat Sunda lainnya ada di bagian bawah. Selain ada batu persegi yang menopak setiap tiang rangka, rumah adat Sunda juga selalu dilengkapi dengan yang namanya golodog. Golodog ini biasanya terbuat dari batu, kayu atau bambu. Golodog ini akan disimpan di depan rumah tepat di depan pintu keluar. Selain digunakan untuk pijakan naik ke rumah, golodog juga sering dipakai untuk tempat bersantai dan membersihkan kaki sebelum naik ke rumah.

Karena perkembangan zaman yang begitu pesat, sudah sangat jarang kita temui bangunan rumah asli Sunda. Bahkan sekarang di perkampungan pun rumah khas Sunda sudah beralih menjadi bangunan dengan batu bata yang ditembok. Tapi bagi Sobat Djadoel yang ingin bernostalgia dan melihat rumah asli khas sunda, Sobat Djadoel bisa berkunjung ke “Kampung Naga” yang ada di Tasikmalaya, karena di sana masyarakatnya masih mempertahankan budaya asli Sunda.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com