Masa-masa Kejayaan Komik Indonesia


http://ayobuka.com/wp-content/uploads/2015/01/gundala-putra-petir1.jpg

BAGI sebagian orang membaca adalah pekerjaan yang sangat membosankan, apalagi kalau harus membaca buku-buku pelajaran. Tapi berbeda jika kita membaca komik, rasa bosan itu bisa berganti menjadi rasa yang menyenangkan. Bahkan tak jarang orang yang jadi suka membaca yang awalnya hanya mencoba membaca komik.

Ngomongin soal komik, ternyata Indonesia punya cerita sendiri tentang cikal bakal komik yang ada saat ini. Konon, sejak ratusan tahun yang lalu, masyarakat Indonesia sudah mengenal yang namanya cerita bergambar. Cerita bergambar yang mirip dengan komik sudah ada sejak kerajaan-kerajaan kuno Indonesia. Buktinya bisa kita lihat sampai saat ini, yaitu pada relief-relief candi seperti di Borobudur sampai gambar-gambar hewan yang bisa kita temukan di beberapa dinding-dinding gua.

Sedangkan pada zaman penjajahan, komik mulai muncul pada tahun 1930-an. Pada saat itu, komik-komik sudah bisa dilihat di beberapa media Belanda seperti De Java Bode dan D’orient. Saat itu ada komik berjudul Flippie Flink and Flash Gordon. Kemudian ada juga komik Put On, komik yang dibuat oleh Kho Wan Gie ini telah terbit secara rutin di surat kabar Sin Po pada tahun 1931. Sayangnya pada era ini komik masih dibuat oleh orang-orang asing termasuk keturunan Tionghoa.

Sedangkan menurut Marcel Bonneff, seorang peneliti sejarah dan perkembangan komik Indonesia, sejarah pertumbuhan Komik Asli Indonesia dimulai pada awal Perang Dunia Pertama, yaitu pada saat dipublikasikannya cerita bergambar karya Nasroen A.S dengan judul Mentjari Poetri Hijaoe di Harian Ratoe Timoer, Solo, pada tahun 1939. Kemudian pada tahun 1942, B. Margono membuat komik Roro Mendut dan diterbitkan di Harian Sinar Matahari Jogjakarta.

Setelah Indonesia merdeka tepatnya 19 Desember 1948, Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, memuat sebuah komik karya Abdulsalam yang berjudul Kisah Pendudukan Jogja. Komik ini tercatat sebagai komik yang dibukukan pertama di Indonesia yaitu pada tahun 1952. Namun setelah itu, komik Indonesia mulai tergerus komik-komik luar buatan Amerika.

Didasari karena keprihatinan terhadap mewabahnya komik Amerika di Indonesia, beberapa komikus Indonesia mulai memutar otak dan akhirnya membuat beberapa komik yang diadaptasi dari tokoh-tokoh komik luar. Contohnya adalah komik Sri Asih karya R.A. Kosasih yang diadaptasi dari komik Wonder Woman.

Kemudian di era 60 sampai 70-an muncul beberapa komik bertema persilatan. Ada komik Si Buta Dari Gua Hantu karya Ganes TH, ada komik Siluman Serigala Putih, Si Djampang, sampai komik Panji Tengkorak. Kemudian ada R.A. Kosasih juga membuat komik Mahabharata dan Majapahit. Dan masih banyak lagi komikus yang membuat komik berkonten lokal, tidak lagi mengadaptasi dari cerita luar. Bisa dibilang ini adalah masa keemasan dunia komik Indonesia.

Memasuki era 90 sampai 2000-an, komikus Indonesia seakan terbebas dari kerangkeng karena adanya kebebasan informasi. Para komikus bisa lebih mengeksplorasi gayanya masing-masing. Apalagi tekhnologi internet sudah mulai menyebar di Indonesia.

Tapi sayangnya momen ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh komikus Indonesia. Bukannya semakin membaik, komik-komik Indonesia seakan mengalami kemunduran dan kalah bersaing dengan komik-komik luar. Ini juga tidak bisa lepas dari gencarnya komik Amerika dan manga Jepang yang masuk ke pasar Indonesia bahkan sampai bisa mengambil hati para pecinta komik nusantara. Hal tersebut juga ikut berpengaruh kepada gaya komikus-komikus Indonesia yang mulai mengikuti gaya manga Jepang.

Maka tak heran jika saat ini komik-komik buatan lokal jarang ditemui di toko-toko buku, yang ada hanya deretan manga Jepang dengan berbagai judul. Komik-komik buatan Indonesia memang kalah tenar dibanding komik buatan luar seperti Amerika dan Jepang. Tapi sebenarnya secara kualitas komik-komik Indonesia bisa diadu dengan komik-komik luar. Semoga komik-komik Indonesia bisa menjadi raja di negerinya sendiri.  Cintai produk lokal ^.^





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com