Bernostalgia Dengan Gulali


http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2008/11/18/164656p.jpg

 

BANYAK cara yang bisa kita lakukan untuk kembali merasakan indah dan serunya masa lalu. Salah satunya yaitu dengan membeli makanan yang ada pada saat itu. Sebuah makanan dapat mengingatkan kita pada berbagai momen, baik itu indah atau buruk. Makanan juga bisa menjadi sebuah lorong waktu yang akan membawa kita ke masa dimana makanan tersebut begitu terkenal dan disukai banyak orang. Seakan-akan kuliner itu menjadi jembatan penghubung berbagai momen di masa lalu dan saat ini.

Tak perlu lewat makanan yang mahal, lewat jajanan sederhana seperti gulali pun kita sudah bisa bernostalgia ke masa lalu. Dulu, gulali merupakan jajanan yang banyak digemari. Hampir semua orang pernah merasakannya, terutama anak-anak. Rasanya yang manis membuat jajanan satu ini disukai oleh banyak kalangan, mulai dari anak-anak, remaja sampai oma opa.

Gulali yang ada di Indonesia ternyata banyak macamnya, ada yang berbentuk serabut seperti kapas, ada yang seperti dodol, gulali yang rasanya agak pahit, sampai ada gulali yang disebut gulali rambut nenek. Untuk gulali yang bentuknya seperti serabut kapas kita lebih mengenalnya dengan arumanis. Gulali jenis ini memang masih eksis sampai saat ini, kita masih bisa dengan mudah mendapatkannya.

Gulali yang identik dengan warna pink ini ternyata sudah ada sejak tahun 1897. Saat itu dua orang dokter gigi yang bernama  William Morrison dan John C. Wharton membuat alat pembuat aromanis. Dan pada 1904 mereka memperkenalkan aromanis ini dalam sebuah pameran di St. Louis World’s Fair di Amerika, sejak saat itu aromanis mulai disukai banyak orang di seluruh dunia.

Arumanis atau bahasa bekennya Cotton Candy biasa dibuat dari gula pasir yang dibakar sambil digiling dan nantinya gula ini akan berubah bentuk menjadi serabut-serabut seperti kapas. Nah saat serabut ini muncul, kita harus mengumpulkannya dengan cara memintalnya menggunakan batang lidi. Selain arumanis yang berbentuk seperti serat kapas, ada juga arumanis ‘rambut nenek’ yang memang mirip sekali dengan rambut nenek-nenek. Arumanis jenis ini memiliki tekstur yang sedikit lebih keras dibanding cotton candy biasa.

Selain itu ada juga gulali kental yang mirip dengan dodol dengan warna-warna yang cerah seperti merah dan hijau. Gulali ini biasanya ditaruh dalam sebuah wajan kecil yang selalu dipanaskan dengan api kecil. Bila ada yang membeli, si abang penjualnya akan mencetak gulali ini sesuai pesanan. Ada yang berbentuk ikan, burung, dan lainnya. Atau ada juga yang dibentuk hanya menggunakan tangan. Jadi si abang penjualnya akan mengambil sedikit demi sedikit dan menempelkannya pada ujung lidi. Si gulali itu akan dipenyet-penyet atau dijewer-jewer sampai membentuk gumpalan berbagai bentuk seperti bunga, ayam atau tak berbentuk sama sekali, alias abstrak.

Lalu, adapun gulali kental yang mirip dodol tersebut diambil sedikit oleh si abang penjualnya setelah itu ditarik-tarik hingga gulali berbentuk seperti orang yang berambut panjang. Nantinya gulali itu dimasukkan ke dalam wadah yang berisi terigu. Gulali tersebut diputar-putar di atas terigu itu hingga merata.

Ada juga gulali yang diberi taburan potongan kacang. Gulali ini biasanya berwarna cokelat kehitaman yang diseluruh permukaannya ditaburi potongan kacang tanah. Gulali jenis inilah yang rasanya sedikit agak pahit, tapi meskipun begitu rasanya tetep enak dan disukai banyak orang.

Gimana Sobat Djadoel tertarik untuk bernostalgia lewat gulali-gulali ini? wink





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com