Mengenal Kecantikan Dua Istana Kepresidenan


istana negara zaman dulu (sumber:http://endangastiana.blogspot.com)

SETIAP tanggal 17 Agustus biasanya hampir seluruh stasiun televisi menayangkan upacara peringatan HUT Indonesia yang disiarkan secara langsung dari Istana Merdeka. Tapi, apakah Sobat Djadoel tahu kalau ternyata Indonesia ini mempunyai banyak Istana Kepresidenan?

Istana Negara dan Istana Merdeka yang berada di Jakarta mungkin sudah banyak diketahui masyarakat Indonesia seperti yang sering Sobat Djadoel lihat dalam acara-acara kepresidenan di tayangan televisi. Namun ternyata Indonesia masih mempunyai empat Istana Kepresidenan lainnya, yaitu Istana Bogor di Bogor, Istana Cipanas di Cipanas, Istana Tampaksiring di Bali dan Istana Gedung Agung di Yogyakarta.

Kali ini djamandoeloe.com akan membahas dua Istana Kepresidenan yang sudah terkenal di masyarakat Indonesia, yakni Istana Negara dan Istana Merdeka. Keduanya terletak di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta yang memiliki luas sekitar 6,8 ha dan terdiri dari dua bangunan utama. Istana Merdeka menghadap ke Taman Monumen Nasional (Monas) yang terletak di Jl. Medan Merdeka Utara. Sementara itu, Istana Negara menghadap ke Sungai Ciliwing di Jl. Veteran.

Lokasi kompleks kenegaraan itu sendiri terletak di Jl. Merdeka Utara. Dalam kompleks kepresidenan ini terdapat pula bangunan-bangunan lainnya. Selain Istana Merdeka dan Istana Negara ada pula Kantor Presiden, Wisma Negara, Masjid Baiturrahim, dan Museum Istana Kepresidenan.

Sebagian besar Sobat Djadoel mungkin sudah tahu kalau Istana Merdeka itu merupakan tempat kediaman resmi Presiden, khususnya Presiden pertama, dan juga merupakan tempat berlangsungnya upacara-upacara kenegaraan. Istana ini mulai dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Louden tahun 1873 dan selesai pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsbarge tahun 1879. Bangunan yang dirancang oleh arsitek Drossares ini juga dikenal dengan nama Istana Gambir. Istana ini menjadi saksi bisu dilakukannya penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

Istana Merdeka sendiri mempunyai beberapa ruangan, di antaranya Ruang Kredensial, yaitu bangsal pertama yang bisa dicapai setelah memasuki pintu utama Istana Merdeka dari arah serambi depan. Di ruangan inilah para duta besar negara sahabat menyampaikan surat kepercayaan (kredensial) kepada Kepala Negara Republik Indonesia. Di ruang ini pula Kepala Negara setiap tahun menerima para duta besar yang menyampaikan ucapan selamat ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Tepat di belakang Ruang Kredensial terdapat sebuat koridor yang memisahkan antara Ruang Jepara di sisi barat dan Ruang Salon di sisi timur, yang dipakai sebagai ruang kerja, ruang tamu, dan ruang makan Ibu Negara. Pada masa Presiden Megawati, ruang ini dirombak menjadi Ruang Raden Saleh, karena di sini tempat khusus untuk menyimpan lima lukisan Raden Saleh.

Melalui koridor yang memisahkan Ruang Jepara dan Ruang Raden Saleh, Sobat Djadoel bisa melangkah ke bangsal berikutnya, yaitu Ruang Resepsi sebagai ruang terluas di Istana Merdeka. Beberapa resepsi kenegaraan, khususnya pada 17 Agustus malam, biasanya diselenggarakan di ruang ini.

Dari Ruang Respsi berlanjut ke serambi belakang yang sudah diperluas sejak renovasi tahun 1997. Awalnya, serambi ini merupakan teras terbuka, namun kemudian ditutup pada masa Presiden Soeharto dengan dinding pintu dan jendela kaca yang disesuaikan dengan gaya arsitektur bangunan. Serambi belakang tertutup ini juga bersambung ke sebuah teras terbuka yang menghadap ke pelataran Istana Jakarta. Pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie, di bagian atas dinding dalam serambi tersebut dihiasi dengan relief aksara Arab yang mengandung arti ”Damailah mereka yang berkunjung ke tempat ini”.

Sedangkan Istana Negara yang sekarang dikenal sebagai Istana Kepresidenan mulanya dibangun untuk kediaman pribadi seorang warga negara Belanda J.A van Braam pada tahun 1796. Kemudian pada tahun 1816 bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dan digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jenderal Belanda. Oleh karena itu, pada zaman dulu istana ini disebut juga sebagai Hotel Gubernur Jenderal.

Banyak peristiwa penting yang terjadi di Istana Negara. Di antaranya ialah ketika Jenderal de Kock menguraikan rencananya kepada Gubernur Jenderal Baron van der Capellen untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol. Juga saat Gubernur Jenderal Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa atau culture stelsel. Setelah kemerdekaan, tanggal 25 Maret 1947, di gedung ini terjadi penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati. Pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.

Istana negara pada dasarnya terdiri dari dua ruangan besar, Ruang Upacara dan Ruang Jamuan. Sesuai dengan namanya, Ruang Upacara adalah untuk tempat penyelenggaraan upacara-upacara resmi kenegaraan. Di masa Hindia-Belanda, Ruang Upacara dipakai sebagai ballroom untuk pesta-pesta yang disemarakkan dengan acara dansa.

Di Ruang Upacara tersedia dua perangkat gamelan, gamelan Jawa dan gamelan Bali, masing-masing ditempatkan di timur dan barat dari podium yang berada di sisi selatan Ruang Upacara. Ruang Upacara ini dapat menampung seribu hadirin berdiri atau 350 hadirin duduk. Wow berarti berarti ruangan ini cukup luas juga yah Sobat Djadoel.

Sedangkan Ruang Jamuan dipakai untuk jamuan kenegaraan atau sebagai tempat para tamu beramah-tamah setelah upacara selesai. Ruangan ini dapat menampung sekitar 150 orang. Di ruangan ini terdapat sebuah lukisan Basoeki Abdullah yang bertema Ratu Kidul. Wuih seramnya, kenapa mesti Ratu Kidul ya Sobat Djadoel? Tapi, itu kita bahas lain waktu hehe.

Lanjut ke serambi depan yang terbuka menghadap ke Jalan Veteran. Menuju serambi depan ini dapat dicapai dengan anak-anak tangga di kedua sisinya. Melalui pintu-pintu kaca, pengunjung akan tiba di ruang depan. Ruang depan ini dipergunakan sebagai tempat untuk tukar-menukar cinderamata antara dua kepala negara sebelum memasuki Ruang Jamuan. Dari depan ini terdapat sebuah koridor untuk mencapai Ruang Jamuan. Sejumlah lukisan bertema revolusi kemerdekaan karya S. Sudjojono, Dullah, dan Rustamadji dipajang di kedua dinding di sepanjang koridor itu.

Di kedua sisi koridor tersebut terdapat beberapa ruang khusus. Di sisi barat terdapat suite untuk Wakil Presiden dan ruang tunggu tamu Presiden. Ruang tamu Presiden ini dulunya merupakan Ruang Pusaka untuk menyimpan berbagai benda pusaka. Di ruang ini Presiden menemui tamu-tamunya.

Ruang kerja Presiden berada di sisi timur koridor ini, diapit dengan ruang tunggu tamu dan ruang ajudan. Ruang kerja tersebut hanya dilengkapi dengan sebuah meja kerja besar, sebuah kursi kerja untuk Presiden, dua kursi hadap, dan sebuah lemari panjang untuk menyiman berbagai benda seni dari keramik dan perak. Sedangkan di belakang ruang kerja terdapat ruang istirahat dan ruang makan bagi Presiden.

Gimana Sobat Djadoel menarik bukan mengenal Istana Kepresidenan ini? Jika sobat djadoel ingin lebih mengenal kedua istana ini, Sobat Sjadoel bisa berkunjung ke Komplek Istana Kepresidenan Jakarta tanpa dipungut biaya, cukup dengan membawa KTP yang masih berlaku. Selamat berkunjung, ayo mengenal lebih dekat Istana Kepresidenan negara yang kita cintai ini. Jangan cuman nonton di TV saja smiley





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com