Mengenal Sosok Bapak Proklamasi (2)


Wakil Presiden pertama Bpk Drs. M. Hatta (Sumber:http://http://indische-archipelago.blogspot.com)

PADA artikel Mengenal Sosok Bapak Proklamasi (1), djamandoeloe.com sudah menceritakan sekilas perjalanan hidup Bung Karno sebagai sejolinya Bung Hatta dalam memepertahankan Indonesia. Seperti yang sebelumnya sudah dibahas, keduanya adalah lambang dan sumber inspirasi perjuangan seluruh bangsa Indonesia. Sosok legendaris Indonesia yang disebut sang proklamator.

Bung Hatta yang memiliki nama lengkap Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta ini lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Beliau  merupakan seorang pejuang, negarawan sekaligus juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama.

Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi. Pada tahun 1913-1916, ia melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Kemudian pada tahun 1919, ia pergi ke Batavia untuk studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Ia menyelesaikan studinya dengan hasil yang memuaskan, dan pada tahun 1921, Bung Hatta terbang ke Rotterdam, Belanda demi belajar ilmu perdagangan atau bisnis di Nederland Handelshoge School.

Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Tokoh politik yang menjadi idola Bung Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis.

Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bertemu dengan nasionalis India, Jawaharlal Nehru. Kegiatannya dalam organisasi ini menyebabkan Bung Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Namun akhirnya Bung Hatta dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: “Indonesia Free”.

Lalu pada tahun 1932, Hatta kembali ke Tanah Air dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia. Pada bulan Februari 1934, Belanda kembali menangkap Hatta bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia. Kala itu, Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.

Tak hanya itu, Bung Hatta pun pernah diculik pemuda Indonesia bersama Bung Karno pada 16 Agustus 1945. Akan tetapi penculikan di sini bukan sebagai tindakan kekerasan terhadap keduanya melainkan di sini para pemuda terus berusaha memaksa Hatta dan Soekarno menyatakan kemerdakaan Indonesia. Sayangnya, usaha para pemuda tersebut tidak berhasil. Sata itu, di Jakarta sempat terjadi kepanikan di mana PPKI telah memulai pertemuan hari itu dan merencanakan untuk memilih Soekarno sebagai ketua dan Hatta sebagai wakil ketua.

Ketika informasi tentang keberadaan Hatta dan Soekarno diketahui serta penyerahan Jepang telah dikonfirmasi, seorang anggota PPKI yang bernama Achmad Subardjo pergi ke Rengasdengklok untuk menjemput keduanya. Malam itu, Bung Hatta dan Bung Karno kembali ke Jakarta menuju rumah Maeda. Di rumah inilah mereka menyusun teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dan tibalah pada 17 Agustus 1945, tepat pukul sepuluh pagi, Hatta bersama Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sehari kemudian, secara aklamasi beliau diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, mendampingi Soekarno yang menjadi presiden RI. Oleh karena itu, maka keduanya disebut dwitunggal, Bapak Proklamator Indonesia.

Tak lepas dari kisah pendidikan dan politiknya, setelah kemerdekaan Bung Hatta pun terpikat oleh gadis Aceh bernama Rahmi Rachim yang kemudian dinikahinya pada 18 November 1945 di Desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Keduanya dikaruniai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah.

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dan pada 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Lalu, di usianya yang ke-77 tahun, tepat pada 14 Maret 1980, Bung Hatta menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada 15 Maret 1980.

Selain, kepintaran dan kegigihannya dalam memperjuangkan kemeredekaan RI, beliau juga turut menyumbangkan kemampuan berdiplomasinya dalam buku. Lebih dari 8.000 buku yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu, seperti sejarah, budaya, politik, bahasa dan lain-lain telah terpampang di perpustakaan Bung Hatta di Bukit Galai Bancah, Kota Bukittinggi. 





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com