Bersembunyi Yang Menghibur dan Menyehatkan


Anak-anak sedang bermain petak umpet (sumber:http://satucl.files.wordpress.com/2011/12/petakumpet3.jpg)

“Hompimpa alaium gambreng”

“Unyil Kucing”

Begitulah kata-kata yang terdengar dari mulut Usro, Ucrit, Cuplis sama Melani, sambil tertawa mereka berpencar berlari ke tempat yang aman untuk bersembunyi. Kemudian si Unyil menghitung sampai 10 sambil berbalik menghadap tembok. Itulah gambaran serunya bermain Petak Umpet di film si Unyil.

Petak umpet adalah salah satu permainan tradisional anak-anak yang sudah sangat terkenal. Kalau anak-anak Sunda biasa menyebut petak umpet ini dengan ucing sumput, sedangkan kalau di Jawa disebut lithungan.Tapi tahu enggak Sobat Djadoel, ternyata selain di Indonesia permainan ini juga sangat digemari oleh anak-anak di luar negeri, di sana disebutnya Hide and Seek. Permainan ini bisa dimainkan oleh minimal 2 orang, namun jika semakin banyak akan semakin seru. Permainan ini sangat populer dibanding permainan tradisional yang lain karena permainan ini sangat mengasyikan dan juga banyak manfaatnya. Selain itu juga tidak diperlukan alat-alat dalam permainan ini, hanya dengan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk bersembunyi Sobat Djadoel sudah bisa bermain Petak Umpet.

Permainan Petak Umpet dimulai dengan Hompimpa (sebuah cara untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dengan menggunakan telapak tangan yang dilakukan oleh minimal tiga peserta) untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing" (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si “kucing” ini nantinya akan berbalik memejamkan mata ke arah INGLO (sebutan untuk tempat jaga, namun sebutan ini biasanya berbeda di setiap daerah, ada yang menyebutnya INGLO, BON dan ada juga yang menamai tempat itu HONG). Biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apa saja sambil menghitung menunggu teman-temannya bersembunyi. Si “Kucing” ini tidak boleh mengintip teman-temannya.

Setelah dia beres menghitung (biasanya hitungan disepakati bersama dengan teman-temannya, bisa 10, 20, atau 30, tergantung luas wilayah bermainnya). Jika teman-temannya sudah menemukan tempat paling aman untuk bersembunyi, mulailah si "kucing" beraksi mencari teman-temannya tersebut.

Nah, kalau si "kucing" menemukan temannya, ia harus menyebut nama temannya sambil menyentuh INGLO atau BON atau HONG. Apabila hanya meneriakkan namanya saja, maka si "kucing" dianggap kalah dan mengulang permainan dari awal. Dan yang paling seru ketika si "kucing" bergerilya menemukan teman-temannya yang bersembunyi, adalah pada saat salah satu anak yang belum ditemukan tengah mengendap-endap mendahului si “kucing” untuk sampai di INGLO, BON atau HONG.  

Jika sang teman tersebut berhasil menyentuhnya lebih dulu dari si “kucing”, maka semua teman-teman yang sebelumnya telah ditemukan oleh si "kucing" dibebaskan, alias sandera si "kucing" dianggap tidak pernah ditemukan. Dan si "kucing" harus kembali menghitung serta mengulang permainan dari awal. Permainan ini akan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang menjadi kucing berikutnya.

Ternyata Petak Umpet ini punya  banyak manfaat lho Sobat Djadoel. Pertama, anak yang suka bermain petak umpet akan pintar berhitung karena permainan ini mengharuskan yang kalah untuk berhitung. Yang kedua, petak umpet juga dapat mejadi sarana olah raga serta menghilangkan kemungkinan obesitas bagi anak. Saat pencari menemukan tempat persembunyian pemain lain, maka pencari dan pemain itu akan berlari, berlomba-lomba untuk sampai ke benteng. Dengan berlari inilah anak dilatih untuk bergerak cepat sehingga membuat sang anak menjadi berolah raga.

Lalu, permainan ini juga mengasah ketelitian dan kepekaan. Untuk si “kucing” (pencari) ini bisa mengasah ketelitiannya dan kepekaannya dalam mengamati gerak gerik pemain lain dan juga tempat-tempat yang dijadikan tempat persembunyian. Sedangkan untuk yang bersembunyi ini akan menambah kemampuan analisis untuk meneliti apakah tempat sembunyinya itu bagus dan aman. Ia pun harus belajar membaca situsi di sekitar benteng dan mengamati gerak-gerik pemain. Di samping itu, ia harus belajar untuk lihai dalam bersembunyi. Tapi bukan lihai bersembunyi dari masalah yah Sobat Djadoel, hehe.

Manfaat berikutnya adalah melatih kesabaran. Mungkin manfaat ini sangat dirasakan oleh pencari karena ia harus sabar untuk menemukan semua pemain. Selain itu, jika si “kucing” harus kembali kalah maka dia membutuhkan kesabaran yang ekstra untuk mengulang hitungannya, dan kembali mencari pemain lain.

Lalu yang terakhir, permainan ini juga mampu melatih ingatan. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa jika telah menemukan pemain yang bersembunyi, pencari tidak boleh lupa untuk menyebut nama pemain itu sebelum menepuk benteng agar tidak kembali menjadi pemain yang kalah. Oleh karena itu, sang pencari harus bisa mengingat nama dan menyebutkan nama temannya yang ditemukan agar ia tidak kalah lagi.

Namun sayang, permainan zaman dulu ini sudah sangat jarang dimainkan oleh anak-anak sekarang karena sudah mulai tergerus dengan permainan-permainan modern. Padahal permainan tersebut, selain menghibur juga menyehatkan tubuh di mana semua otot bekerja, bersinergi dengan tubuh dan otak.

Satu hal yang menjadi poin penting dari permainan tradisional ini ialah adanya interaksi langsung antar anak satu dengan lainnya. Komunikasi sosial yang nyata itu membentuk jalinan hubungan yang jauh lebih erat dalam bermasyarakat. Apalagi kerap tercipta berbagai polah dan tingkah laku unik yang terjadi secara spontan. Seperti perkelahian, adu mulut, kejadian lucu hingga banyak lagi. Semua itu sungguh memberikan arti tersendiri.

Bermain Petak Umpet memang menyenangkan. Berlarian mencari tempat-tempat bersembunyi dengan waktu yang terbatas, lalu mengendap-endap mencari celah untuk keluar dari persembunyian. Jujur saja, dengan segala keterbatasan teknologinya zaman dulu, justru suasana riang masa kecil dapat terasa dan terekam hangat sebagai salah satu nostalgia terindah.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com