Pateangan-teangan di Batu Cinta


HAI sobat Djadoel, waktu itu djamandoeloe.com sudah mengajak kalian bertualang ke daerah selatan Kota Bandung kan? Disana djamandoeloe.com sempat mengatakan sebuah objek wisata di sekitar kecamatan Rancabali yang bernama Situ Patengan. Mungkin bagi sebagian orang sudah mengetahui apa itu Situ Patengan, namun adapula yang masih penasaran apa sih Situ Patengan itu? Dan apa menariknya?

Situ Patengan itu sangat menarik untuk dikunjungi lho, apalagi untuk kawula muda yang tengah dimabuk asmara, hehe. Bukan hanya karena tempatnya yang romantis, melainkan dongengnya yang melegenda di kalangan masyarakat. Konon katanya, jika dua sejoli yang sedang jatuh cinta berkunjung ke tempat ini cintanya akan kekal abadi. Pasangan yang sudah menikah pun tak mau kalah, terkadang mereka pun sesekali datang kembali ke tempat ini untuk bernostalgia mengenang indahnya saat berpacaran dulu dan menceritakan kembali pada anak cucunnya. Oleh karena itu, banyak sekali pasangan yang berboncong-bondong ke Situ Patengan untuk sekedar berwisata atau berharap kisah cintanya akan berakhir bahagia seperti sepasang kekasih dalam dongeng tersebut.

Sebenernya dongeng Situ Patengan ini seperti apa sih? Jadi, Situ Patengan ini mengisahkan cinta Putra Prabu dan Putri titisan Dewi yang besar bersama alam. Kala itu di kaki Gunung Patuha terdapat seorang putri gunung bernama Dewi Rengganis yang jatuh cinta kepada keponakan Prabu Siliwangi bernama Ki Santang. Sayangnya, perjalanan cinta keduanya tak semulus dan seindah yang mereka bayangkan. Keduanya harus dipisahkan karena sebuah perintah yang mengharuskan Ki Santang pergi ke medan perang dan meninggalkan Sang Putri.

Sebelum keberangkatannya, Ki Santang menitipkan Dewi Rengganis kepada dua orang sahabatnya, yaitu Senopati Layung dan Senopati Agor. Senopati Layung diyakini oleh masyarakat setempat sebagai si layung ikan besar bila berada dalam air dan akan berubah wujud menjadi rusa bila ia berada di darat. Sedangkan Senopati Agor diyakini menjelma sebagai hewan berkepala manusia dan bertubuh seperti anjing yang biasa dipanggil Aul.

Kemudian, setelah sekian lama mereka dipisahkan, pucuk dicinta ulam pun tiba. Kedua sejoli ini dipertemukan kembali di sebuah tempat yang dinamakan Batu Cinta. Dewi Rengganis pun meminta Ki Santang untuk membuatkan sebuah danau dan perahu untuk berlayar bersama. Dan perahu inilah yang hingga saat ini menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati. Pulau tersebut diberi nama pulau Asmara atau pulau Sasaka. Menurut mitos warga setempat, situ yang airnya berasal dari Sungai Cirengganis ini merupakan kumpulan air mata kebahagiaan dari dua sejoli tersebut.

Dari dongeng itulah, batu yang ada di Situ Patengan ini dikenal sebagai batu cinta dan dipercaya akan memberikan kelanggengan bagi pasangan yang mengelilingi situ tersebut. Dan nama Patengan ini diambil dari dongeng tersebut, yaitu dari kata pateangan-teangan yang dalam bahasa Sunda berarti saling mencari. Kisah yang romantis kan sobat Djadoel? Tapi, yang namanya dongeng kan cerita zaman dulu yang tidak benar-benar terjadi. So, yang namanya jodoh mari kita serahkan sama Sang Maha Pencipta. Ok, Sobat Djadoel enjoy this story ya, see you!





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com