Kak Seto, Bapaknya Si Komo


Kak Seto (sumber foto: antaranews.com)

“Macet lagi…macet lagi…gara-gara si Komo lewat…”

Ingatkah Sobat Djadoel dengan penggalan lagu di atas? Yup, itu adalah penggalan dari lagu Si Komo karya Kak Seto. Biasanya nama si Komo selalu disebut-sebut ketika macet melanda jalanan, bahkan hingga sekarang kalau ada macet pasti orang-orang bilang “Ada si Komo lewat”. Tapi, tahukah Sobat Djadoel siapa yang membuat karakter si Komo ini? Siapa lagi kalau bukan Kak Seto.

Kali ini djamandoeloe.com akan mengingatkan Sobat Djadoel pada orang yang telah menciptakan karakter si Komo tersebut. Seto Mulyadi atau yang lebih terkenal dengan panggilan Kak Seto ini dilahirkan di Klaten pada 28 Agustus 1951. Ia membuat tokoh ini untuk sebuah acara anak. Acaranya itu berupa sandiwara boneka yang disiarkan di salah satu stasiun televisi nasional dan diasuh sendiri olehnya.

Tokoh si Komo diambil dari hewan Komodo yang menjadi salah satu keajaiban dunia. Dalam ceritanya, Si Komo ditemani oleh tokoh lain seperti, Belu si bebek yang lucu, Dompu si domba putih, Piko si sapi, dan Ulil si ulat kecil yang menjengkelkan. Acara ini penuh unsur edukasi, pesan moral dan etika di setiap tayangannya. Sayangnya, saat ini acara tersebut sudah tidak tayang lagi. Semoga saja acara-acara seperti si Komo ini bisa hadir kembali di tengah maraknya acara anak-anak yang lebih bertemakan cinta seperti sekarang.

Sebagai seorang psikolog anak dan pemerhati masalah anak, Kak Seto juga dulu pernah menjadi pembawa acara televisi untuk anak-anak bersama Henny Purwonegoro. Kak Seto yang juga menjabat sebagai ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak ini ternyata mempunyai masa lalu yang cukup suram. Adiknya yang bernama Arief Budiman meningggal karena penyakit campak. Hal inilah yang membuat Kak Seto terjun ke dunia anak sampai sekarang.

Selain itu, pria kelahiran Klaten ini pernah menjadi pengaduk semen dan tukang batu. Bahkan ia pernah menjadi tukang parkir saat pertama kali berada di Jakarta. Tapi hal tersebut tak membuatnya putus asa, sampai akhirnya ia melihat salah satu acara anak yang selalu ditayangkan di Stasiun TVRI asuhan Ibu Sandiah atau yang lebih terkenal dengan Ibu Kasur. Setelah melihat tayangan itu, ia mulai tergerak untuk ambil bagian dalam acara tersebut. Dengan tekad yang kuat, ia pergi ke rumah Ibu Kasur dan berharap dapat menyalurkan kecintaannya di dunia anak.

Sesampainya di sana, Kak Seto malah bertemu dengan Bapak Soerjono atau Pak Kasur.  Kepada Pak Kasur inilah ia kemudian meminta menjadi asisten Pak Kasur secara sukarela tanpa dibayar. Tanpa pikir panjang, Pak Kasur menerimanya menjadi asisten pada 4 April 1970. Inilah awal kegemilangan dan kebangkitan Kak Seto.

Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Psikologi di UI pada tahun 1981, delapan tahun kemudian lulus dari Pendidikan S-2 Bidang Psikologi Program Pascasarjana UI, dan meraih gelar Doktor bidang Psikologi Program Pascasarjana UI pada 1993. Kak Seto menikah dengan Deviana dan mempunyai empat anak yakni Eka Putri, Bimo, Shelomita, dan Nindya Putri. Di keluarga dan sahabat dekatnya ia biasa dipanggil dengan sebutan Tong.

Kiprahnya di dunia pendidikan dan perlindungan hak anak membuat Kak Seto makin diakui di tingkat nasional dan internasional lewat berbagai penghargaan yang diterimanya, di antaranya dari Sekjen PBB Javier Perez berupa penghargaan “Peace Messenger Award” pada 1987, dan Orang Muda Berkarya tingkat Dunia, di Amsterdam pada 1987.

Kak Seto membangun hidupnya dari bawah hingga besar seperti sekarang ini tidak mudah, semuanya butuh perjuangan. Tapi bukan hanya itu yang bisa Sobat Djadoel contoh darinya melainkan sikap kepeduliannya terhadap sesama meskipun ia sekarang telah menjadi orang besar. Hal inilah yang seharusnya Sobat Djadoel ambil dari sosok yang satu ini.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com