Malin Kundang Anak Durhaka


Batu Malin Kundang, Pantai Air Manis Padang, Sumatera Barat. (sumber:http://indonesiaindonesia.com)

INDONESIA memang terkenal dengan keragamannya, setiap daerahnya pasti mempunyai ciri khasnya masing-masing. Hal itulah yang membuat bumi pertiwi kita ini kaya akan berbagai hal, mulai dari makanan, bahasa, ras, agama, sampai budaya. Selain itu juga Indonesia dipenuhi oleh berbagai kisah legenda dan cerita rakyat yang bukan hanya sekadar cerita. Akan tetapi, kisah yang di dalamnya tersimpan banyak makna serta pesan moral bagi setiap orang, seperti kisah Malin Kundang yang sudah dikenal seantaro Indonesia.

Cerita rakyat yang merupakan Kaba (genre sastra tradisional Minangkabau) dari Sumatera Barat ini berkisah tentang seorang anak yang dikutuk  menjadi batu oleh ibunya sendiri dikarenakan ia durhaka pada ibunya. Konon batu besar yang tersebar di pantai Air Manis, Padang, merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang.

Konon zaman dulu di pesisir pantai Sumatera Barat hiduplah sebuah keluarga nelayan yang terdiri dari, Ayah, Ibu dan Anak yang bernama Malin Kundang. Ayah Malin terpaksa pergi ke negeri sebrang untuk mencari nafkah, tapi akhirnya ibu Malin harus menggantikan sang Ayah mencari nafkah karena ayah Malin tak pernah kembali dari negeri sebrang. Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar cepat kaya raya. Ia berkata pada ibunya bahwa setelah itu ia akan kembali ke kampungan halaman. Sampai sekarang merantau sudah menjadi ciri khas para pria dari tanah minangkabau.

Awalnya ibu Malin tidak setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi ke negeri sebrang, tetapi Malin tetap bersikeras hingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin  diserang oleh bajak laut. Barang dagangan dirampas dan sebagian besar awak kapal dibunuh oleh bajak laut. Beruntungnya, Malin sempat bersembunyi dan membuat dirinya selamat dari para bajak laut tersebut.

Malin sempat terkatung-katung di tengah laut sebelum akhirnya terdampar di sebuah pantai. Ia berjalan menuju ke desa yang paling dekat dan ternyata desa itu adalah desa yang sangat subur. Dari sinilah Malin mulai meniti karirnya, dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja lama kelamaan ia menjadi seorang yang kaya raya serta memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Ia pun menikah dengan seorang gadis cantik di desa tersebut.

Berita Malin yang telah menjadi saudagar kaya dan menikah itu santer terdengar sampai ke telinga Ibunya. Mendengar kabar itu, ia sangat senang dan bersyukur karena anaknya telah sukses di tanah rantau. Saking senangnya, setiap pagi ia pergi ke dermaga menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Akhirnya Malin dan istrinya melakukan pelayaran ke kampung halamannya disertai anak buah dan pengawalnya yang banyak. Sang ibu yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga serta dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal membuat ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya, Malin beserta menantunya.

Rasa rindu pada anaknya yang membuncah membuat ibu Malin bergegas menuju ke arah kapal. Setelah melihatnya dari dekat, ia semakin yakin bahwa orang tersebut adalah Malin karena terdapat bekas luka di lengan kanannya. Bekas luka yang sudah ada sejak dia masih kecil akibat terjatuh. Melihat anaknya yang telah tumbuh dewasa, ibu Malin pun langsung memeluknya.

Namun, saat Malin melihat ibunya yang sudah tua serta mengenakan pakaian lusuh dan kotor langsung memeluknya, Malin bukannya membalas pelukan sang Ibu justru ia malah marah besar. Meskipun sebenarnya ia tahu bahwa wanita tua itu adalah ibunya, ia tetap saja marah karena merasa malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.

Mendapat perlakuan seperti itu dari anaknya, Ibu Malin merasa sakit hati dan ia pun merasa kecewa terhadap anaknya. Anaknya yang sudah ia rawat dengan baik sejak kecil malah tumbuh menjadi anak yang durhaka.

Tak lama dari kejadian itu, Malin beserta rombongannya memilih untuk kembali berlayar meninggalkan ibu serta kampung halamannya. Di tengah perlajanan berlayarnya, Malin serta awak kapal lainnya dihadang badai dahsyat yang menghancurkan kapalnya. Di waktu yang bersamaan namun di tempat berbeda, ibu Malin yang masih sakit hati karena tingkah anaknya berdoa dengan nada yang lantang, "Tuhan, jika benar ia anakku, kukutuk ia menjadi batu!"

Dalam sekejap, doa yang dilontarkan ibu Malin pun langsung dikabulkan oleh Tuhan. Nasib nahas menimpa Malin Kundang. Selain kapalnya hancur diterpa badai besar, tiba-tiba saja tubuhnya perlahan menjadi kaku hingga akhirnya berubah menjadi sebuah batu karang. Dan sampai saat ini Batu Malin Kundang masih bisa dilihat di Padang, Sumatera Barat, tepatnya berada di pantai Air Manis sebelah selatan Kota Padang.

Entah benar atau tidak tentang legenda ini, tapi satu hal yang pasti cerita ini mengandung banyak pesan moral serta nasihat yang bisa Sobat Djadoel petik. Cerita ini mengajarkan kita untuk selalu menghormati orang tua terutama ibu, karena menurut pepatah juga “Surga Berada di Telapak Kaki Ibu”. Sudah sepantasnya kita menghormati dan membahagiakan orang yang telah susah payah melahirkan kita. Karena doa seorang ibu yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh pasti selalu dikabulkan oleh Tuhan. Selain itu, kita juga tidak boleh sombong, karena sifat sombong merupakan suatu sifat yang sangat tercela. Intinya kita jangan sampai durhaka kepada orang tua dan bersikap sombong kalau tidak  mau bernasib sama seperti Malin Kundang. smiley





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com