Setrika Ayam Jago


Setrika Ayam Jago (sumber foto: http://surakarta.olx.co.id/setrika-arang-antik-kuno-nan-jadoel-iid-426145109)

SOBAT Djadoel tentunya sudah mengenal setrika, bukan? Yup, setrika adalah alat untuk merapikan pakaian dari kerutan atau lipatan kecil pada pakaian sehabis dicuci agar kembali rapi. Saat ini setrika yang paling banyak digunakan adalah setrika listrik, karena penggunaannya cukup mudah dan praktis.

Setrika sendiri diambil dari bahasa Belanda yaitu strijkijzer, yang berarti cara menghilangkan kerutan dari pakaian dengan alat yang dipanaskan. Setrika dipercaya mulai dikenal dan digunakan orang sejak 400 SM oleh bangsa Yunani. Dahulu setrika digunakan untuk membuat lipatan-lipatan vertikal pada pakaian kebesaran yang akan digunakan untuk melakukan upacara atau ritual tertentu. Saat itu setrika yang digunakan oleh bangsa Romawi dinamakan dengan Prelum. Prelum ini termasuk jenis setrika yang menggunakan teknik pressing sehingga banyak orang yang menyebutnya mirip dengan alat pembuat anggur (winepress).

Setrika yang berupa pot logam yang diisi dengan bara api juga sudah dikenal dan digunakan oleh bangsa Cina sekitar abad ke-1 SM. Sedangkan pada awal abad ke-17 orang-orang mulai menggunakan setrika yang berbentuk potongan logam tebal dengan permukaan rata yang diberi pegangan, saat itu setrika jenis ini dikenal dengan sebutan Sadiron. Pada periode ini, setrika kemudian disempurnakan menjadi kotak logam bergagang yang dapat diberi bara api.

Sedangkan setrika yang kita gunakan saat ini, setrika listrik ditemukan sekitar tahun 1800-an oleh Henry W. Seely, tepatnya pada tahun 1882. Sebelum setrika listrik hadir di Indonesia, masyarakat Indonesia zaman dulu menggunakan setrika arang yang sumber panasnya diambil dari bara api hasil pembakaran arang.

Dulu setrika jenis ini dikenal dengan sebutan setrika ayam jago, karena terdapat aksesoris sekaligus pembuka setrika yang berupa ayam jago di bagian depan setrikanya. Berbeda dengan setrika listrik, setrika ayam jago dibuat dari besi yang diisi arang membara. Setrika arang ayam jago adalah salah satu setrika antik yang paling populer pada abad 19. Setrika ini memiliki nilai artistik yang tinggi, sehingga sampai saat ini para kolektor benda antik selalu memburu setrika ayam jago ini untuk dijadikan koleksinya.

Masyarakat di pedesaan yang belum teraliri listrik biasanya memakai setrika ini untuk merapikan pakaian mereka. Setrika ayam jago sendiri sudah diproduksi sekitar tahun 1900-an, kala itu sebagian wilayah di Indonesia belum teraliri listrik.

Menyetrika pakaian menggunakan setrika arang sedikit perlu persiapan ekstra. Mulai dari menyiapkan arang dan membakarnya dulu di luar sampai menghasilkan bara, arangnya bisa dibakar menggunakan minyak tanah. Setelah itu baranya dimasukan ke dalam setrika dengan membuka selot setrikaan yang berupa ayam jago, kemudian kipas-kipas agar baranya tetap menyala.

Kalau zaman dulu biasanya dikipas dengan menggunakan kipas dari bahan bambu yang dianyam, sama seperti kipas untuk mengipas nasi. Biasanya kalau dalam bahasa Sunda, kipas itu disebut hihid. Setelah setrikanya dirasa cukup panas baru kita bisa langsung mulai menyetrika. Setrika ini memang sudah ketinggalan zaman, tapi apabila listrik di rumah sedang mati setrika ini akan sangat berguna merapikan pakaian Sobat Djadoel semua.

Hingga saat ini teknologi setrika terus mengalami perkembangan. Sudah ada bermacam-macam varian setrika mulai dari setrika lisrtik sampai setrika uap. Tapi satu hal yang harus diperhatikan ketika menyetrika, baik menggunakan setrika listrik atau apapun, menyetrikalah dengan satu alur sehingga pakaian akan lebih mudah rapi dan menyetrika pun jadi mudah dan cepat. Oh iya, bila perlu gunakan pelicin atau air untuk melicinkan pakaiannya.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com