Keris, Maha Karya Indonesia


(sumber foto: http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/08/19/kisah-bengkoknya-keris-jawa-389538.html)

KALAU Sobat Djadoel waktu sekolah dulu suka memerhatikan, dalam pelajaran sejarah pernah dibahas tentang keris sakti buatan Mpu Gandring. Keris tersebut merupakan senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singasari. Konon, keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari, termasuk Ken Arok, pendiri kerajaan Singasari sekaligus yang memesan keris itu pada Mpu Gandring. Dan katanya keris ini masih ada sampai sekarang, namun tidak ada yang tahu keberadaan pastinya di mana.

Indonesia memang tak diragukan lagi sebagai negara yang mewarisi banyak budaya dan tradisi dari nenek moyang. Akan tetapi, karena kurang rasa kepedulian akan warisan leluhur banyak negara yang mencoba mengakui beberapa budaya milik Indonesia. Ya, salah satunya adalah keris. Senjata tradisional yang satu ini pernah diklaim oleh negara tetangga kita meski akhirnya UNESCO menetapkan keris sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia dari Indonesia pada tahun 2005.

Benda yang terbuat dari logam ini merupakan senjata tikam yang termasuk golongan belati (senjata yang berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya. Keris ini mempunyai bentuk yang khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya. Bentuk keris biasanya melebar dibagian pangkalnya dan seringkali bilahnya berkelok-kelok sehingga tidak simetris.

Keris telah digunakan sejak zaman dulu, selain digunakan sebagai senjata keris juga sering dianggap sebagai sebuah benda yang memiliki kekuatan supranatural. Adanya keris di Indonesia diduga terpengaruh oleh buadaya Tiongkok dan India. Karena dilihat dari bentuknya keris ini sangat mirip dengan senjata yang berasal dari Kebudayaan Tiongkok selatan. Sedangkan sikap menghormati berbagai benda yang terbuat dari logam ternyata berasal dari kebudayaan India. Meskipun penyebutan istilah "Keris" telah tercantum pada prasasti dari abad ke-9 Masehi, keris sendiri belum sepenuhnya terjelaskan karena tidak ada sumber tertulis yang secara deskriptif menjelaskan mengenai keberadaannya dari sebelum abad ke-15.

Penyebaran keris ke berbagai wilayah ternyata dipengaruhi juga oleh kerajaan Majapahit, diduga pada masa itu seluruh wilayah kekuasaan Majapahit telah mengenal keris. Sehingga tak heran keris ini sampai juga ke Negara Filipina, Malaysia dan Thailand. Seperti yang kita ketahui bahwa kerajaan Majapahit pernah sampai ke wilayah tersebut. Sedangkan bentuk keris yang kita kenal sekarang juga merupakan warisan dari masa Majapahit sekitar abad ke-14. Beberapa keris yang terkenal dari peninggalan Majapahit adalah keris pusaka nagasara dan sabuk inten, condon gcampur, serta keris taming sari.

Karena keris ini hampir ada di seluruh wilayah Indonesia, maka tata cara penggunaannya pun berbeda di masing-masing wilayah, tergantung dengan kebudayaan setempat. Di Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sedangkan di wilayah Sumatera, Malaysia, sampai ke Filipina, keris ditempatkan di depan dalam upacara-upacara kebesaran.

Keris sendiri memiliki berbagai macam bentuk, ada yang bermata berkelok kelok, ada pula yang bermata lurus seperti di daerah Sumatera. Kemudian ada juga yang memliki kelok tunggal seperti halnya rencong di Aceh atau Badik di Sulawesi.

Zaman dulu keris ini berfungsi sebagai senjata dalam peperangan dan sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian atau persembahan sebagaimana dinyatakan oleh prasasti-prasasti dari milenium pertama. Sedangkan saat ini keris lebih banyak digunakan sebagai benda aksesoris dalam berbusana. Ada pula yang memandang keris sebagai benda yang menjadi simbol budaya, atau yang menjadikannya benda koleksi karena dinilai sebagai benda yang memiliki nilai estetika yang tinggi.

Bagi yang suka terhadap keris pastinya kenal dengan istilah “Memandikan Keris”. Istilah ini digunakan untuk merawat keris, biasanya perawatan keris ini dilakukan dengan cara membersihkan keris menggunakan cairan asam, seperti air kelapa atau perasan jeruk nipis. Setelah bersih kemudian diberi minyak pewangi. “Memandikan Keris” biasanya dilakukan setiap tahun pada bulan Muharram atau bulan Sura dalam penanggalan Jawa.

Keris adalah sebuah maha karya asli Indonesia yang sarat filosofis yang mengajarkan sifat keluhuran budi dan keberanian. Sudah seharusnya Sobat Djadoel semua ikut melestarikan warisan leluhur dan jangan sampai kita marah-marah terhadap negara lain yang mengakui budaya kita tapi kita sendiri tidak tahu akan budaya tersebut. Jadi kita harus lebih mengerti dan melestarikan budaya sendiri sebelum orang lain mengakuinya. We love Indonesia ^^





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com