Batik, Dari Kerajaan Hingga Rakyat Jelata


batik mega mendung (sumber:blogspot.com)

SIAPA yang tak kenal batik, pakaian yang sebelumnya hanya digunakan pada kesempatan-kesempatan tertentu saja, sekarang ini sudah mulai umum dipakai dalam berbagai kesempatan. Banyak orang yang sudah mulai percaya diri dengan menggunakan batik, dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Dulu batik sering dikatakan kuno dan kampungan, tapi sekarang batik menjadi fashion yang banyak digunakan dan mudah dipadu padankan dengan pakaian lainnya. Bahkan sekarang sudah ada Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober, di mana pada hari itu kebanyakan orang Indonesia memakai batik untuk kegiatan apapun.

Ngomong-ngomong soal batik, kata batik sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu amba dan titik. Amba yang berarti menulis dan titik yang merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan dari bahan malam yang diaplikasikan ke atas kain untuk menahan masuknya bahan pewarna. Kata batik juga bisa merujuk pada dua hal, bisa ke pakaian yang bercorak batik atau pada cara pembuatan bahan kain dengan teknik perintang.

Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang seperti batik ini bukan hanya dikenal di Indonesia, tapi juga dikenal di banyak negara. Di Mesir teknik ini sudah dikenal sejak abad ke-4 SM, saat itu ditemukan kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam dan membentuk pola yang teratur seperti batik di Indonesia. Sedangkan di Cina, teknik seperti ini ditemukan pada Dinasti Tang sekitar 618-907 M. Selain itu, teknik perintang juga ditemukan di India dan Jepang.

Secara historis batik sudah dikenal sejak abad 17 di bumi Nusantara ini. Konon kabarnya, cara membatik ini dibawa oleh pedagang-pedagang dari India. Pada saat itu motif atau pola batik masih didominasi oleh bentuk binatang dan tanaman. Tapi seiring berjalannya waktu motinya mengalami perubahan corak dari yang awalnya berupa lukisan binatang dan tanaman menjadi motif abstrak yang menyerupai awan, wayang beber dan sebagainya.

Zaman dulu kegiatan membatik hanya dilakukan di lingkungan kerajaan dan hasilnya pun hanya digunakan untuk pakaian raja, keluarga serta pengikutnya. Dikarenakan banyak pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kegiatan membatik ini mulai menyebar ke luar keraton. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram dan setelahnya, seperti kerajaan Solo dan Yogyakarta. Pada saat itu batik yang dihasilkan berupa batik tulis. Karena batik cap baru dikenal setelah perang dunia kesatu berakhir atau sekitar tahun 1920an.

Proses pengerjaan batik sendiri sangat unik sekaligus rumit. Karena setidaknya ada 12 tahap yang harus dilalui untuk mendapatkan satu batik. Tahapan pertama yaitu nyungging, pada tahapan ini biasanya pengrajin membuat pola/motif pada kertas. Tahap kedua njaplak, yang berarti memindahkan pola dari kertas ke kain. Sedangkan tahap ketiga dinamakan nglowong, yaitu pelekatan malam dengan canting sesuai dengan pola. Proses selanjutnya yaitu tahap keempat dinamakan ngiseni, yaitu pemberian motif isen pada pola utama. Tahap selanjutnya dinamakan kelimanyolet, pada tahap ini kain diberi warna pada bagian tertentu saja. Tahap selanjutnya mopol, atau menutupi bagian yang dicolet dengan malam.

Tahap yang ketujuh disebut ngelir, pada tahap ini dilakukan pewarnaan secara menyeluruh. Sedangkan pada tahap selanjutnya kain direndam di air yang mendidih untuk menghilangkan malamnya, proses ini dinamakan nglorod. Proses selanjutnya yaitu tahap kesembilan dinamakan ngrentesi, pada proses ini dilakukan pemberian cecek (titik) pada klowongan. Dan tahap selanjutnya dinamakan nyumti, dimana pada proses ini kain ditutupi lagi dengan malam tapi hanya untuk area tertentu. Dan tahap ke sebelas disebut nyoga, atau bisa juga disebut proses pencelupan kain dengan warna sogan. Sedangkan pada tahap yang terakhir dilakukan nglorod lagi, supaya malam  yang masih menempel hilang dari kain.

Untuk bahan-bahan pewarna yang digunakan dalam pembuatan batik biasanya terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri, seperti dari pohon mengkudu. Sedangkan untuk bahan sodanya dibuat dari soda abu dan untuk garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Dari yang dulunya hanya untuk kalangan kerajaan, kini batik sudah digemari oleh berbagai kalangan dan tidak lagi dianggap tradisional atau kuno karena saat ini batik sudah bisa dipadupadankan dengan fashin modern. Bahkan UNESCO telah menetapkan batik sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2 Oktober 2009.  Jadi, tak ada alasan bagi Sobat Djadoel untuk malu mengenakan batik. Mari kita hargai hasil karya luhur para perajin batik nusantara, jangan sampai aset budaya yang tak ternilai harganya ini hilang begitu saja. We Love INDONESIA.

Untuk melihat tempat keindahan budaya Indonesia yang lainnya, Sobat Djadoel bisa lihat di rubrik Budaya.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com