Meriahnya Imlek, GONG XI FA CAI


Momsus Imlek 2013 (sumber:kreatif djamandoeloe.com)

WARNA merah dan kuning sudah mulai menghiasi beberapa tempat umum, seperti pusat perbelanjaan dan yang lainnya. Lampion-lampion sudah mulai terpasang lengkap dengan pohon angpau yang berwarna merah muda. Ini menandakan bahwa Tahun Baru Cina atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Imlek sebentar lagi akan datang di bulan penuh kasih ini.

Tahun Baru Cina atau Imlek merupakan perayaan penting bagi orang Tionghoa yang tersebar di seluruh dunia. Perayaan Tahun Baru Cina sendiri dimulai pada hari pertama di bulan pertama dalam penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal kelima belas di bulan itu, di mana saat itu akan terjadi bulan purnama.

Kata Imlek sendiri berasal dari lafal Hokkian yang berarti kalender lunar (bulan) atau bisa juga disebut tahun yang dibentuk dari gabungan kalender bulan dan kalender matahari. Oleh karena itu, penentuan tanggal untuk menyambut Imlek ini ditentukan melalui penanggalan lusionar. Tahun Baru Cina biasanya dirayakan dengan besar-besaran, di Tiongkok sendiri Imlek dirayakan lebih meriah daripada tahun baru masehi. Dalam kalender Gregorian Tahun Baru Cina biasanya jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, biasanya antara 21 Januari sampai 20 Februari.

Perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek sebenarnya adalah perayaan menyambut musim semi yang disebut dengan Chun Jie atau The Spring Festival. Perayaan ini mulai dikenal sejak zaman Dinasti Xia sekitar tahun 1766 SM dan baru diresmikan pada masa Dinasti Han sekitar 206 SM. Selain di Cina, sekarang Imlek telah dirayakan secara umum dimana-mana. Terutama di daerah Asia yang berdekatan dengan Cina, seperti Vietnam, Taiwan, Nepal, Korea dan Jepang. Bahkan di Indonesia sendiri sekarang Imlek sudah dijadikan hari libur Nasional.

Saat ini perayaan Imlek dilakukan dengan jamuan makan besar dan berbagai kegiatan. Seperti festival lampion, pesta kembang api, atau pertunjukan Barongsai. Satu yang menarik dari pesta kembang api, ternyata hal tersebut dilakukan untuk mengusir monster jahat. Konon menjelang tahun baru Imlek selalu ada monster jahat yang berkeliaran, monster itu bernama Guo Nien. Dan uniknya monster ini takut akan suara petasan dan sebagainya, apalagi kalau melihat cahaya kilat yang keluar dari ledakan mercon, pasti monster itu langsung kabur. Oleh karena itu, Imlek identik dengan pesta kembang api.

Setelah kembang api, ada satu hal lainnya yang identik juga dengan Imlek. Nah, kalau identik yang satu ini pasti Sobat Djadoel juga senang mendapatkannya, yakni angpau. Angpau ini berupa amplop yang diisi uang dan biasanya diberikan oleh orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua kepada anak-anak yang melakukan kunjungan ke rumah. Konon angpau ini bisa membawa keberuntungan dan dapat melindungi anak-anak dari roh jahat.

Seperti perayaan tahun baru yang lainnya, Imlek juga punya makanan khusus untuk menyambutnya bahkan mempunyai arti sendiri-sendiri. Menurut kepercayaan Tionghoa, apa yang dimakan saat perayaan Imlek adalah sebuah doa. Karena itu, saat merayakan Imlek seluruh anggota keluarga akan menggelar makan malam bersama dengan menu spesial yang merupakan gambaran dari doa dan harapan keluarga tersebut.

Biasanya menu yang disantap tak jauh dari mie, ikan, dan kue keranjang. Mie melambangkan panjang umur. Karena itu, mie yang dimasak untuk imlek dibuat panjang dan tidak putus. Mie yang panjang melambangkan harapan panjang umur. Memakan mie pada saat Imlek juga tidak boleh dipotong. Mie harus disantap sampai ujung terakhir. Sedangkan ikan merupakan simbol dari air. Ikan yang digunakan saat perayaan Imlek bisa ikan emas, bandeng, atau salmon. Dalam lafal Hokkian ikan yaitu yu, dimana mempunyai arti yang sama dengan surplus atau berlebihan. Jadi, jika kita menyantap ikan diharapkan akan sejahtera sepanjang tahun.

Sementara kue keranjang melambangkan harapan hidup yang manis. Bentuknya yang bulat, juga melambangkan kerukunan dalam keluarga. Selain disantap, kue keranjang juga digunakan dalam sesajen dalam keperluan sembahyang di kelenteng atau di rumah. Kue ini biasanya sudah disiapkan sebagai sesaji mulai dari enam hari sebelum tahun baru Imlek dimulai dan dipertahankan untuk tidak dimakan sampai Cap Go Meh selesai.

Selain itu dalam perayaan Imlek juga identik dengan buah-buahan. Seperti jeruk yang melambangkan sari kehidupan. Biasanya jeruk yang digunakan berwarna kuning atau banyak orang menyebutnya “Jeruk Emas” dan kalau bisa jeruknya yang masih ada daunnya, sebab daun ini melambangkan kekayaan yang akan bertumbuh terus. Sedangkan buah yang lainnya yaitu srikaya yang melambangkan tidak terputus keturunan, lalu buah pisang yang bermakna bersatu padu dan tidak tercerai berai. Sementara buah apel melambangkan kesehatan dan keselamatan. Jadi tak heran jika kita berkunjung ke yang sedang merayakan Imlek, akan selalu tersedia buah-buahan tersebut.

Di malam tahun baru setelah bersantap di rumah atau di restoran biasanya orang-orang Tionghoa bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar, ini diyakini bisa membawa masuk rezeki dengan leluasa ke dalam rumah. Hal lain yang diwajibkan ketika Imlek ialah menyembunyikan sapu. Ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa, bahwa pada saat Imlek dan dua hari sesudahnya tidak boleh menyapu, karena itu bisa menyapu habis rezekinya di tahun tersebut.

Semoga dengan adanya perayaan Tahun Baru Imlek bisa menambah keharmonisan masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Selamat Tahun Baru Imlek, GONG XI FA CAI. Lihat juga teknologi perkalenderan yang ada di dunia, Penanggalan Kalender Itu Ada Banyak Lho!





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com