Barongsai di Cap Go Meh


(sumber foto: http://bukansekedarkabar.blogspot.com/2012/01/sejarah-tarian-barongsai.html)

 

BEBERAPA hari yang lalu etnis Tionghoa diberbagai belahan dunia merayakan Cap Go Meh, perayaan ini melambangkan hari ke-15 di mana ini merupakan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek. Cap Go Meh biasanya dirayakan dengan berbagai kegiatan, mulai dari Festival Lampion, Festival makan onde-onde sampai arak-arakan kesenian khas Tionghoa. Salah satu kesenian Tionghoa yang selalu ada saat perayaan Cap Go Meh adalah kesenian Barongsai.

Barongsai merupakan kesenian tradisional khas Cina, di mana tarian ini menggunakan sarung yang menyerupai singa. Kesenian ini mempunyai sejarah panjang, sekitar ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi.

Kesenian Barongsai mulai populer di Cina pada masa dinasti Nan Bei, sekitar tahun 420-589 Masehi. Saat itu pasukan dari raja Song Wen Di sangat kewalahan menghadapi berbagai serangan dari pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Saat itu munculah seorang panglima perang yang bernama Zhong Que dengan membuat tiruan dari boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Dan tak disangka upaya ini ternyata sukses membuat gajah dari pasukan raja Fan ketakutan dan peperangan dimenagkan oleh pasukan raja Song Wen Di. Sejak saat itu tarian Barongsai selalu dimainkan dan melegenda sampai sekarang.

Kesenian Barongsai masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke17, karena saat itu terjadi migrasi besar dari Cina Selatan ke seluruh dunia. Perkembangan barongsai di Indonesia kemudian berhenti pada tahun 1965, karena situasi situasi politik saat itu sedang bergejolak. Pada waktu itu segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia dilarang, kesenian Barongsai dimusnahkan dan tidak boleh dimainkan lagi. Kemudian setelah berakhirnya Orde Baru dan memasuki Era Reformasi, kesenian Barongsai mulai menggeliat lagi. Terutama waktu Indonesia dipimpin oleh Presiden Gus Dur, dimana kebudayaan Tionghoa diperbolehkan untuk ditampilkan, tidak seperti pada masa Soeharto yang mengekangnya. Sejak saat itu banyak perkumpulan barongsai kembali bermunculan, bahkan sekarang kesenian Barongsai tak hanya dimainkan oleh kaum muda Tionghoa, tetapi banyak pula kaum muda pribumi Indonesia yang memainkannya.

Tarian Barongsai sendiri terdiri dari dua jenis utama, yakni tarian Singa Utara dan Selatan. Tarian Singa Utara memiliki surai ikal dan berkaki empat, serta mempunyai penampilan yang lebih natural dan mirip singa ketimbang Singa Selatan. Sedangkan singa selatan sendiri memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua atau empat. Singa selatan juga memiliki kepala yang dilengkapi dengan tanduk sehingga kadangkala mirip dengan binatang ‘Kilin’.

Gerakan antara Singa Utara dan Singa Selatan juga berbeda. Singa Selatan terkenal dengan gerakan kepalanya yang terbilang keras dan melonjak-lonjak. Sedangkan gerakan Singa Utara cenderung lebih lincah dan penuh dinamika karena memiliki empat kaki. Untuk menarikan barongsai Utara diperlukan penari barongsai yang professional, karena tarian singa ini bisa dibuat melompat, berdiri, dan berguling. Biasanya para penari Singa Utara memiliki keahlian akrobatik.

Selain penari barongsai, pada kesenian barongsai juga terdapat seorang penari lain yang mengenakan topeng dan membawa kipas. Penari ini biasa disebut Sang Buddha, di mana tugasnya untuk menggiring sang Singa Barong ke tempat di mana amplop berisi uang disimpan. Karena dalam tarian barongsai ada istilah yang bernama Lay See, yaitu prosesi barongsai memakan amplop yang berisi uang yang ditempeli oleh selada air.

Selain itu, ada juga barongsai yang berupa liong. Barongsai ini berbentuk seperti naga dengan badannya yang panjang dan bersisik seperti ikan. Barongsai jenis ini biasanya dimainkan oleh banyak orang, bila kita menontonnya dari atas maka akan terlihat seperti naga terbang yang meliuk-liuk di atas langit.

Menurut kepercayaan orang Tionghoa, singa merupakan lambang kebahagiaan dan kesenangan. Sehingga tarian Barongsai dipercaya dapat membawa keberuntungan sehingga umumnya diadakan pada berbagai acara penting masyarakat Tionghoa. Selain itu masyarakat Tionghoa juga percaya bahwa kehadiran barongsai dapat mengusir aura tidak baik.

Semoga dengan adanya berbagai kebudayaan Tionghoa di Indonesia bisa membuat budaya Indonesia lebih beraneka ragam dan menjadikan masyarakat Indonesia lebih mempunyai rasa tenggang rasa agar terciptanya kedamaian di negeri majemuk ini. 





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com