Kisah Leak Dibalik Keseramannya


(sumber foto: http://asalnjepret.blogspot.com/2012/03/garuda-wisnu-kencana.html)

 

MASIH dalam suasana Nyepi, kali ini djamandoeloe.com akan mencoba menghadirkan mitos dari daerah Bali yang sudah terkenal ke penjuru Nusantara, yaitu Leak. Bila kita mendengar kata leak, yang pertama tersirat ialah sosok yang menakutkan dengan lidah yang menjulur panjang, dan mempunyai taring yang besar serta gigi yang tajam dengan baju kotak-kotak khas Bali. Tapi, sebenarnya leak itu apa sih? Monster kah? Hantu kah? Atau apa?

Leak berasal dari dua kata, Le yang artinya penyihir dan Ak yang artinya jahat. Jadi kata leak berarti penyihir yang jahat. Konon katanya leak itu seorang manusia yang sedang mempraktikkan ilmu sihirnya dan hanya bisa dilihat pada malam hari oleh orang yang punya kekuatan supranatural. Sebenarnya leak bukan hanya merujuk pada sosok seram dengan lidahnya yang panjang. Karena pada dasarnya leak merupakan ajaran sastra suci Bali yang bila diucapkan dengan daya cipta maka ilmu itu dapat mengubah seseorang menjadi apapun yang diinginkan. Kalau dalam bahasa sederhananya, leak adalah ilmu mengubah bentuk. Ada yang bisa mengubah bentuknya menjadi binatang, tanaman bahkan ada yang bisa berubah menjadi pesawat terbang. Ilmu leak ini bisa dipelajari oleh siapa saja, tidak ada batasan usia atau gender dalam mempelajarinya.

Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana menyakiti orang lain. Seperti ilmu yang lainnya, Ilmu leak ini juga ada yang digunakan untuk kebaikan dan ada juga yang digunakan untuk kejahatan. Di Bali sendiri ilmu leak dikenal masyarakat luas sebagai ilmu yang sangat sadis, karena dapat membunuh manusia dalam waktu yang relatif singkat. Tapi ada pula yang mempelajari ilmu ini untuk digunakan dalam kebaikan, karena ilmu ini juga dapat membantu dalam proses penyembuhan penyakit.

Ilmu leak ini mempunyai tujuh tingkatan, yang pertama ialah Leak barak atau Brahma. Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Selanjutnya ada Leak bulan, Leak pemamoran, Leak bunga, Leak sari, Leak cemeng rangdu. Dan yang terakhir adalah Leak Siswa Klakah, Leak ini merupakan Leak yang paling tinggi ilmunya karena ketujuh cakranya mampu mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.

Bagi orang yang sedang mempraktikkan ilmu leaknya, sering kali mereka saling memakan atau bertempur antara satu dengan yang lainnya untuk menaikkan tingkat keilmuannya. Pada zaman dulu orang-orang yang mempelajari ilmu ini biasanya adalah para petinggi-petinggi kerajaan. Hal tersebut untuk digunakan sebagai pertahanan dari serangan luar.

Cerita mengenai leak sendiri bisa kita telususi pada zaman kerajaan Kediri yang diperintah oleh Raja Erlangga. Konon pada zaman itu, di desa Dirah hiduplah seorang janda dengan anak perempuannya yang sangat cantik. Janda itu dikenal dengan nama Calonarang. Karena wanita ini pernah disakiti oleh pria, dia memutuskan untuk bertapa di tempat yang sunyi, hal ini dilakukan agar dia mendapatkan kekuatan yang maha dahsyat. Karena kesungguhannya, para Dewa akhirnya mengabulkan permohonannya. Dan janda ini pun menjadi orang yang sakti, tiada tandingannya.

Ketika anak gadisnya tumbuh dewasa, tak ada seorang lelaki yang berani mendekatinya bahkan melamarnya meskipun ia gadis yang sangat cantik. Para lelaki tersebut terlalu takut kepada ibunya yang mempunyai kesaktian yang sangat tinggi. Sang ibu merasa tersinggung akan hal itu sehingga ia pun semakin membenci kaum lelaki. Rasa sakit hati sang Ibu berujung pada dendam, dengan kesaktiannya ia membuat wabah penyakit untuk memusnahkan semua lelaki. Dan benar saja, banyak lelaki yang meninggal karenanya.

Raja Erlangga yang memerintah Kediri pada waktu itu memerintahkan Empu Bharadah untuk mengatasi masalah ini. Setelah melakukan penelusuran ternyata persoalannya berawal dari dendam seorang wanita sakti. Untuk mengatasinya Sang Empu memerintahkan anaknya yang ganteng untuk mendekati dan merayu anak sang janda yang bernama Ratna Menggali. Akhirnya, Ratna Menggali jatuh cinta dan bersedia untuk dijadikan istri. Dari sinilah anak Sang Empu mulai menggali informasi melalui Ratna Menggali, untuk mencari tahu dimana titik lemah dari ibunya. Ternyata strategi ini berhasil sampai akhirnya Rangda Naten Dirah terbunuh.

Entah benar atau tidak, seharusnya kita mampu mengambil hikmah dari cerita di atas agar kita selalu mengamalkan ilmu yang kita punya dalam hal kebaikan dan jangan pernah dendam terhadap apaun karena bisa melukai diri sendiri.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com