Macet Lagi, Macet Lagi Gara-Gara Si Komo Lewat


(sumber foto: http://virusceo.multiply.com/journal/item/45)

 

MASA kanak-kanak memang sangat menyenangkan di mana kita bisa bermtain tanpa beban. Di masa itu juga kemampuan anak sedang pesatnya menyerap semua hal yang berada di sekitarnya, baik dari keluarganya maupun lingkungan sekitarnya. Jadi, seharusnya mereka mendapatkan hal yang baik yang mampu mengedukasinya. Bukan seperti sekarang ini, anak-anak selalu dijejali dengan musik dan tokoh dewasa. Walaupun ada tokoh anak-anak yang bisa ditonton di televisi, itu juga bukan tokoh anak-anak yang berasal dari dalam negeri melainkan dari dunia barat. Seperti Sesame Stre, Barney, Upin dan Ipin, Shaun The Sheep dan lainnya. Mungkin hanya Si Unyil yang bisa dibilang tokoh dalam negeri yang masih setia menemani anak-anak Indonesia setiap harinya.

Dulu sekitar tahun 90an sangat banyak acara anak-anak karya dalam negeri yang tayang di televisi, mulai dari acara musik anak-anak, sinetron anak-anak sampai acara sandiwara boneka. Semuanya bisa dibilang mampu mengedukasi anak-anak dengan cara yang simple namun mengena. Salah satunya ialah acara boneka Si Komo. Masih ingatkah Sobat Djadoel sama tokoh yang menyerupai Komodo ini? Dulu Si Komo sangat popular di tahun 90an awal. Tokoh ini sangat identik dengan kemacetan, di mana ada kemacetan selalu ada anekdot “Macet lagi, macet lagi, gara-gara Si Komo lewat”. Si Komo digambarkan menyerupai hewan Komodo yang berwarna hitam putih, dengan jargonya yang berbunyi “Weleh…Weleh…”. Jargon tersebut bahkan selalu diingat oleh orang-orang yang dulu sempat menyaksikan acara Si Komo ini.

Si Komo sendiri sebenarnya merupakan sebuah tayangan hiburan TV yang pernah tayang di TPI sekitar tahun 1990. Tayangan ini berupa sandiwara boneka hasil asuhan dari Seto Mulyadi, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Kak Seto. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) sekaligus pencipta lahirnya tokoh Si Komo ini. Pada acara tersebut Si Komo tidak tampil sendirian dalam menemani anak-anak, dia biasanya ditemani oleh karakter lain. Seperti Belu si bebek, Dompu si domba, Piko si sapi, serta Ulil si ulat. Nama-nama itu merupakan akronim dan memiliki singkatan, seperti Dompu = domba putih, Belu = bebek lucu, Ulil = ulat jahil.

Sayang sekali acara Si Komo sudah hilang dari dunia pertelevisian, sepertinya sangat bermanfaat sekali jika tokoh Si Komo ini “dihidupkan” kembali dalam sebuah acara televisi yang menarik bagi anak-anak. Selain menyajikan keceriaan dan hiburan, acara Si Komo dan teman-temannya ini sarat dengan muatan pengetahuan dan pendidikan moral bagi anak-anak. Bisa dibilang semua yang diceritakan benar-benar apa yang terjadi di lingkungan nyata yang biasa ditemui oleh anak-anak. Seperti pentingnya menggosok gigi, selalu menyayangi teman dan hal-hal yang ada di keseharian kita. Intinya selalu menjunjung tinggi kebaikan dan selalu menjaga kesehatan. Dalam acara ini karakter Ulil selalu menjadi tokoh antagonis yang selalu berbuat nakal dan akan menjadi jalan pembuka bagi Si Komo untuk menyampaikan pesan moralnya.

Walau tayangannya sangat sederhana, namun saat itu Si Komo berhasil menjadi acara dan karakter favorit anak-anak. Bisa dibilang Si Komo ini merupakan salah satu aset negara yang bernilai tinggi. Bentuknya yang mirip dengan Komodo merupakan salah satu keajaiban dunia yang ada di Indonesia, bisa menjadikannya mascot yang bisa dekat dengan anak-anak.

Jujur saja, acara yang penuh unsur edukasi, pesan moral dan etika seperti inilah yang dibutuhkan oleh anak-anak Indonesia sekarang ini. Bukan acara dewasa yang selalu mempertontonkan kekerasan, percintaan dan kejahatan. Sayangnya, saat ini acara Si Komo yang mampu mengedukasi anak-anak sudah tidak tayang lagi. Semoga saja acara-acara seperti si Komo ini bisa hadir kembali seperti acara Si Unyil yang sempat vakum. Dan mampu menemani saat bermain anak-anak dengan pendidikan yang menyenangkan.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com