Bandung Lautan Api


(sumber foto: http://www.inilah.com/read/detail/1844068/inilah-detik-detik-bandung-lautan-api)

 

BAGI sebagian orang tanggal 24 Maret tidaklah penting hanya sebuah tanggal yang setiap tahunnya berulang, namun bagi warga kota Bandung, tanggal ini memiliki makna yang mendalam. Sekitar  puluhan tahun yang lalu, tepatnya pada 24 Maret 1946, terjadi kebakaran besar di kota Bandung, Jawa Barat. Kebakaran ini sengaja dilakukan oleh penduduk Bandung guna mencegah tentara sekutu dan tentara Netherlands Indies Civil Administration (NICA) untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Kala itu, dalam waktu tujuh jam, Tentara Republik Indonesia (TRI) dan sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, kemudian meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Di mana-mana asap hitam mengepul, membubung tinggi di udara, dan semua listrik mati.

Kejadian ini dipicu setelah pasukan Inggris dipimpin Brigade Mac Donald yang tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan pasukan sekutu dengan pemerintah Republik Indonesia sudah tegang karena setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka, pasukan sekutu masih terus mengintai Indonesia.

Berbagai peristiwa-peristiwa tak mengenakkan terus terjadi bahkan mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TRI dan polisi, diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TRI tidak dapat dihindari.

Kemudian pada 24 November 1945, TRI dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara Bandung, termasuk Hotel Savoy Homan dan Hotel Preanger yang digunakan pasukan sekutu sebagai markas. Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada 25 November 1945. Selain harus menghadapi musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyur dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang tengah menghadapi musuh. Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Mac Donald pun menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.

Lalu, pada 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Kala itu, semakin banyak korban rakyat Indonesia yang berjatuhan.

Semangat juang rakyat Indonesia tak padam sampai di sana. Ultimatum tentara sekutu yang menyuruh TRI meninggalkan kota Bandung saat itu mendorong TRI melakukan operasi “bumi hangus”.  Para pejuang Republik Indonesia tidak rela bila kota Bandung dimanfaatkan para sekutu dan NICA. Hingga akhirnya, rakyat Indonesia bersepakat membumihanguskan kota Bandung. Keputusan tersebut diambil pada 24 Maret 1946 melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan di hadapan semua kekuatan perjuangan pihan Republik Indonesia.

Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi kota Bandung. Hari itu juga, pembakaran kota Bandung berlangsung.

Di tengah gelap gullitanya malam serta asap yang membubung tinggi akibat pembakaran, tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik tentara sekutu. Dalam pertempuran ini, Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi Barisan Rakjat Indonesia (BRJ) terjun dalam misi menghanurkan gudang amunisi tersebut.

Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu pun meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Demi keselamatan penduduk, seluruhnya dievakuasi dari Bandung. Kurang lebih pada pukul 24.00 waktu setempat, Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Namun, api masih membubung membakar kota Bandung, sehingga Bandung terlihat seperti lautan api. Kemudian, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung.

Sejak saat itulah, istilah Bandung Lautan Api dikenal dan diperingati setiap tanggal 24 Maret. Istilah tersebut berasal dari pendapat Rukana, Komandan Polisi Militer Bandung. Ia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.”

Dan istilah tersebut pun muncul di harian Suara Merdeka pada 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda, Atje Bastaman, yang kala itu menyaksikan pemandangan pembakaran kota Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari sanalah, ia melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi. Dengan semangatnya, ia segera menulis berita dan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Namun, karena kurangnya ruang untuk tulisan judul tersebut, maka judul berita diperpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api”. Hingga kini, istilah tersebut selalu terngiang di telinga warga Indonesia, khususnya warga kota Bandung.

Kemudian dibangunlah sebuah monumen Bandung Lautan Api yang terletak di kawasan Lapangan Tegalega. Monumen ini dibangun untuk memperingati peristiwa Bandung Lautan Api, di mana terjadi pembumihangusan Bandung Selatan yang dipimpin oleh Muhammad Toha.

Peristiwa ini mengilhami lagu Halo, Halo Bandung yang nama penciptanya masih menjadi bahan perdebatan. Lagu yang dibuat untuk mengenang emosi para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang saat itu tengah menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.

Semoga sejarah para pejuang Rakyat Indonesia bisa terus menyemangati Sobat Djadoel agar tidak mudah menyerah dan tetap mencintai negeri Indonesia tercinta ini.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com