Si Pitung, Robin Hood-nya Indonesia


(sumber foto: http://indonesiabox.org/wisata/tempat-memorial/rumah-si-pitung-marunda/)

SIAPA yang tak kenal dengan Si Pitung, jagoan Betawi yang terkenal dengan jiwa sosialisnya, selalu membela rakyat kalangan bawah. Tokoh legendaris asli betawi ini seringkali disebut sebagai Robin Hood-nya Indonesia.

Terlahir dengan nama Salihoen, Si Pitung merupakan anak ke empat dari pasangan Bang Piun dan Mpok Pinah. Si Pitung lahir di daerah Pengumben, Kampung Rawabelong, Betawi (sekarang Jakarta) sekitar abad ke-19. Sewaktu kecil, Si Pitung dimasukkan ke pesantren oleh orang tuanya untuk menimba ilmu ngaji dan silat pada Haji Naipin, beliau merupakan seorang kiai terkemuka di kampung tersebut. Saat di pesantren inilah Si Pitung mendapatkan ilmu Paneasona, sebuah ilmu tingkat tinggi yang mampu membuat tubuh menjadi kebal dari benda tajam.

Si Pitung sendiri merupakan sosok pendekar yang suka membantu rakyat bawah dalam menghadapi ketidakadilan yang ditimbulkan oleh penguasa saat itu, yakni penjajah Belanda. Sejak kecil, ia juga sudah terbiasa melihat kedua orang tuanya ditindas oleh Belanda beserta tuan tanah untuk menyetorkan upeti ke Belanda. Mungkin dari sanalah rasa ingin berontak muncul dalam diri Pitung.

Banyak sekali versi cerita mengenai Si Pitung ini, tapi yang paling terkenal ialah ia pernah bergabung dengan sekelompok maling untuk merampas harta semua tuan tanah atau pribumi yang berpihak pada Belanda. Dan hasil rampokannya itu mereka berikan kepada rakyat miskin yang tertindas oleh kompeni.

Menurut Van Till (1996), Si Pitung pernah menjadi buronan Belanda karena perilaku dia yang suka merampok. Petugas polisi Belanda saat itu, A.W. Van Hinne selalu memburu Si Pitung dengan berbagai cara. Sampai akhirnya pada tahun 1891 dia bisa menangkap Pitung, tapi kemudian Si Pitung berhasil melarikan diri dari penjara Meester Cornelis dengan kekuatan tenaga dalamnya.

Tapi akhirnya Si Pitung berhasil tertangkap lagi oleh Belanda, ada yang mengatakan bahwa sebelum tertangkap Si Pitung dalam keadaan sehabis potong rambut, sehingga kesaktiaannya hilang. Namun ada pula yang menyebutkan bahwa jimatnya telah dicuri, sehingga ilmu kebalnya jadi tak berfungsi. Sedangkan menurut catatan Dr. C. Snouck Hugronje, Si Pitung mati setelah divonis hukuman mati pada tahun 1896 oleh Belanda.

Saking melegendanya cerita Si Pitung ini, beberapa sineas film Indonesia mencoba mengangkat cerita ini ke dalam layar lebar. Film dengan judul Si Pitung, Banteng Betawi, Si Pitung Beraksi Kembali, Pembalasan Si Pitung, Titisan Si Pitung, semuanya merupakan film yang diangkat dari kisah Si Pitung. Tak jarang juga cerita ini diangkat dalam sebuah lenong khas Betawi. Jadi bagi Sobat Djadoel yang ingin lebih tahu tentang cerita Si Pitung, bisa menonton film-film di atas atau bisa juga mengunjungi objek wisata "Rumah Si Pitung" di Jalan Kampung Marunda Pulo, Marunda Cilincing, Jakarta Utara.

Banyak pro dan kontra dalam cerita Si Pitung ini, tetapi pada dasarnya tokoh Si Pitung ini merupakan cerminan pemberontakan sosial yang dilakukan oleh orang Betawi terhadap penjajah pada saat itu, yakni Belanda. Apapun alasannya, mencuri itu tidak baik, jadi ambillah sisi positifnya dari Si Pitung ini. Intinya kita harus peka terhadap kondisi sosial lingkungan sekitar kita, dan membantu dengan cara yang baik-baik saja.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com