Menapaki Jejak Sejarah Gua Belanda


(sumber foto: http://chanfie.wordpress.com/2009/06/)

SATU lagi objek wisata yang perlu Sobat Djadoel kunjungi kalau lagi mampir ke Kota Bandung, yakni Gua Belanda. Gua yang menjadi salah satu peninggalan kolonial Belanda ini bukan termasuk gua alam, karena sebenarnya gua ini dibuat oleh manusia. Gua yang terletak di Bukit Dago Pakar ini berada di dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Bandung.

Semula kawasan Tahura ini merupakan bentangan pegunungan dari barat sampai ke timur yang merupakan tangki “air raksasa alamiah” untuk cadangan di musim kemarau. Oleh karena itu, pada masa kedudukan Belanda tahun 1918, dibangunlah sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung yang berada di Tahura. PLTA sepanjang 114 meter dengan lebar 1,8 meter ini merupakan PLTA pertama di Indonesia, dimana terdapat sebuah terowongan yang melewati perbukitan batu pasir tufaan.

Akan tetapi, enam tahun kemudian setelah air Sungai Cikapundung dialirkan melalui pipa, gua ini beralih fungsi. Dilihat dari letaknya yang strategis dan tersembunyi, kemudian menjelang perang dunia kedua awal tahun 1941, pihak Belanda menjadikan terowongan ini sebagai benteng atau markas militernya.

Dalam terowongan tersebut mereka membangun jaringan gua sebanyak 15 lorong dan 2 pintu masuk setinggi 3,2 meter. Luas pelataran yang dipakai gua seluas 0,6 hektar dan luas seluruh gua berikut lorongnya adalah 547 meter. Di dekat mulut terowongan pun dibangun semacam pos untuk mengawasi daerah sekitarnya. Saluran atau terowongan berupa jaringan gua di dalam perbukitan ini kemudian dinamakan Gua Belanda.

Nah, selain 15 lorong yang ada di dalam gua tersebut, Sobat Djadoel juga bisa melihat beberapa ruangan lainnya seperti ruang kamar yang dahulunya digunakan untuk tempat istirahat atau tidur para tentara Belanda. Lalu, ada juga ruang tahanan atau penjara, ruang interogasi untuk para tahanan, serta lorong ventilasi sepanjang 126 meter dengan lebar 2 meter. Jika melihat atap gua ini, Sobat Djadoel bisa melihat seperti bekas ada penerangan lampu yang kini sudah tidak bisa dipakai lagi karena seringkali mati.

Adapula pemandangan menarik lainnya yang bisa Sobat Djadoel lihat di dalam Gua Belanda, yakni bekas rel troli semacam untuk pengangkutan barang atau sejenisnya yang memanjang di lorong Gua Belanda serta ruangan bekas stasion radio telekomunikasi militer Hindia-Belanda.

Wah, mengapa di dalam Gua Belanda ini terdapat ruangan bekas stasion radio telekomunikasi ya? Ternyata, pada saat perang dunia kedua, bangunan Gua Belanda ini memang pernah digunakan menjadi pusat stasion radio telekomuniasi Hindia-Belanda. Saat itu, stasion yang ada di Gunung Malabar terbuka dari udara dan tidak mungkin untuk dilindungi atau dipertahankan dari serangan udara sehingga dipilihlah Gua Belanda sebagai tempat penggantinya. Namun sayang, penggunaan stasion radio ini belum sempat terpakai secara optimal.

Meskipun begitu, pada awal perang dunia kedua, dari stasion radio telekomunikasi inilah Panglima Perang Hindia Belanda, Letnan Jenderal Ter Pootren mengatur rencananya. Melalui Laksamana Madya Helfrich, ia dapat berhubungan dengan Panglima Armada, sekutu Laksamana Muda Karel Doorman untuk mencegah masuknya Angkatan Laut Kerajaan Jepang yang mengangkut pasukan mendarat di Pulau Jawa. Akan tetapi, sangat disayangkan usaha tersebut gagal dan seluruh pasukan berhasil mendarat dengan selamat di bawah komando Letnan Jenderal Hitosi Imamura. 

Dan pada masa kemerdekaan, ternyata Gua Belanda ini juga pernah dipakai atau dimanfaatkan sebagai gudang penyimpanan senjata dan mesiu oleh tentara Indonesia lho.

Menapaki jejak sejarah itu selalu mengasyikkan, apalagi kalau menelusuri Gua Belanda yang lorong utamanya menyambung ke daerah Maribaya. Di sana Sobat Djadoel bisa melihat pemandangan alam yang indah. Lorong Gua Belanda ini merupakan jalan tembus dari daerah Dago ke daerah Maribaya yang ada di Lembang. Pada masa Perang Dunia Kedua, Lembang merupakan benteng Belanda untuk mempertahankan kota Bandung dari serangan bala tentara Jepang. Jadi, tak heran jika gua ini menjadi sangat berguna bagi Belanda.

Kalau diperhatikan Gua Belanda ini terlihat lebih rapi dari Gua Jepang yang juga ada di kawasan hutan ini, mungkin karena lantai dan dindingnya yang sudah disemen. Namun sayang, beberapa dinding gua yang telah mengalami renovasi ini tak terpelihara dengan baik, coretan dari tangan-tangan jahil mengotori dinding-dinding bersejarah tersebut.

Gua Belanda yang beberapa kali sempat beralih fungsi, bahkan pernah dijadikan gudang penyimpanan senjata dan mesiu ini sekarang telah menjadi tempat rekreasi dan salah satu bangunan bersejarah yang harus diabadikan. Pernah juga tempat ini dijadikan sebagai lokasi untuk uji nyali. Hayo, Sobat Djadoel ada yang berani uji nyali di sini? Hehe.

Bagi Sobat Djadoel yang tertarik ingin mengunjungi gua ini bisa menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi. Jarak yang hanya 500 meter dari pintu masuk utama lebih asyik jika ditempuh dengan jalan kaki. Karena dengan asri dan sejuknya kawasan ini bisa membuat kita tak terasa capek. Ayo jalan-jalan sambil mengabadian setiap sudut sejarah yang ada di Tahura!





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com