World Book Day, Hari Buku Sedunia


hari buku sedunia di peringati setiap tanggal 23 April. (sumber foto: http://www.drcraigmalkin.com/)

BULAN April selau identik dengan perayaan hari Kartini pada tanggal 21 April setiap tahunnya. Tapi bicara soal bulan april, tak banyak yang tahu jika di bulan ini juga ada sebuah perayaan yang diperingati secara global, sedunia. Pernah dengar World Book Day? Mungkin kalimat tersebut terasa sedikit asing di telinga Sobat Djadoel.

World Book Day atau Hari Buku Sedunia ialah sebuah peringatan terhadap “buku”, khususnya pada dunia sastra. Hari Buku Sedunia ini diperingati setiap tanggal 23 April dan berbarengan dengan hari Hak Cipta Sedunia.

Dilihat dari sejarahnya, ide perayaan buku sedunia ini berawal dari daerah Catalonia di Spanyol. Di sana ada sebuah perayaan Hari Saint George, dimana para pria memberikan bunga mawar pada kekasihnya. Namun sejak tahun 1923, kebiasaan tersebut dimodifikasi oleh para pedagang buku. Hari Saint George tersebut dijadikan juga untuk menghormati Miguel de Cervanters, seorang pengarang terkenal yang meninggal pada 23 April. Sejak hari itu, para perempuan mulai memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Hingga akhirnya pada tahun 1995, melalaui sebuah Konferensi Umum yang diadakan di Paris, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) memutuskan tanggal 23 April sebagai World Book Day.

Selain hal di atas, penentuan hari buku sedunia ini juga didasari karena pada tanggal 23 April banyak penulis terkenal dunia lahir dan meninggal. Seperti Inca Garcilaso, Shakespeare dan Cervantes, mereka meninggal pada tanggal yang sama yakni 23 April 1616. Selain itu juga, hari buku ini merupakan sebuah apresiasi yang tinggi kepada pengarang-pengarang besar dunia.

Bicara soal buku, beberapa sumber mengatakan bahwa buku pertama kali lahir di Mesir setelah terciptanya kertas papirus, yakni sekitar 2400 SM. Kertas papirus yang berisi tulisan ini digulung dan gulungan tersebut dianggap sebagai bentuk buku yang pertama. Tapi, ada juga yang mengatakan buku sudah ada sejak zaman Sang Budha di Kamboja, karena saat itu Sang Budha menuliskan wahyunya di atas daun.

Beda lagi kalau di Cina, para cendekiawan negeri tirai bamboo ini menuliskan ilmu-ilmu mereka di atas beberapa lidi yang diikat menjadi satu. Mungkin karena ini sistem penulisan di Cina, dituliskan secara vertikal yaitu dari atas ke bawah. Tapi kalau buku yang terbuat dari kertas baru ada setelah Cina berhasil menciptakan kertas pada tahun 200 SM. Dari sinilah teknologi kertas menyebar ke seluruh dunia melalui pedagang-pedagang dan menjadikan kertas sebagai alas tulisan. Terlebih lagi setelah diciptakannya mesin cetak oleh Gutenberg, kertas yang yang berupa lembaran kemudian dikumpulkan menjadi satu dan terciptalah buku.

Tapi sangat disayangkan, buku yang telah ada berabad-abad ini sekarang menjadi sesuatu yang kurang mendapat tempat dalam kehidupan manusia. Meskipun orang-orang tahu buku sangat penting untuk memperoleh ilmu, tapi banyak yang menganggapnya hanya sebagai pelengkap dalam hidup. Padahal buku bisa menginformasikan apa adanya dan menemani orang yang memerlukan informasi, fakta dan data. Jadi tak heran ada pepatah yang mengatakan “Buku sebagai jendela dunia”.

Karena sangat pentingnya buku bagi manusia, maka UNESCO menetapkan Hari Buku Sedunia ini supaya dapat mendorong setiap orang, khususnya generasi muda untuk mulai membudayakan membaca. Karena dengan membaca kita dapat memberi kontribusi pada kehidupan sosial dan budaya sekitar. Seiring perkembangan zaman, buku juga mengalami banyak perubahan bentuk. Tapi yang paling penting apa pun bentuknya, buku cetak atau pun elektronik, semoga buku tetap jadi kunci penting dari pendidikan. Selamat membaca!





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com