[Review] Galau Orang Ketiga


Buku Galau Orang Ketiga, nikmati kisah seru tentang orang ketiga beserta tips-tipsnya yang ciamik.

“Aku lagi galau nih”

“Lagunya bikin gue galau deh!”

“Galau kan jadinya”

GALAU, lima huruf yang bisa bikin keadaan seseorang menjadi tak keruan. Kelima huruf ini mulai merebak sekitar tahun 2011 akhir. Tak hanya menerjang anak muda, orang dewasa pun kerap terjerat kegalauan. Biasanya kelima huruf tersebut menyerang mereka yang sedang patah hati, misal diputusin sama sang pacar, ditolak cintanya, ga dapet-dapet pacar atau karena kehadiran orang ketiga.

Bahkan ada yang mengatakan, punya pacar enggak punya pacar tetep aja yang namanya galau selalu menghantui. Enggak punya pacar, galau tiap liat yang lagi pacaran. Yang punya pacar, galau gara-gara ada orang ketiga yang masuk dalam hubungannya. Wah, serba salah ya?

Nah, ngomong-ngomong soal orang ketiga, biasanya mereka seringkali dijadikan tersangka utama dalam hancurnya sebuah hubungan. Siapa sangka, hubungan yang tadinya manis semanis gula tiba-tiba hambar karena kehadiran orang ketiga. Tapi, apakah kehancuran hubungan sepasang kekasih itu 100% karena kesalahan orang ketiga?

Ternyata, dari beberapa kisah yang ada di dalam buku Galau Orang Ketiga, tidak semua hubungan sepasang kekasih hancur karena orang ketiga. Justru ada yang hubungannya terasa menjadi lebih hangat setelah hadirnya orang ketiga. Hidup itu memang penuh kejutan. Meski  orang ketiga sering dianggap sebagai pemicu retaknya sebuah hubungan, sebenarnya ia tak selalu membawa petaka. Terkadang ia hadir untuk mengharmoniskan dan menyadarkan kita arti dari “penyesalan”. Menjadi orang ketiga bukanlah sebuah keinginan, melainkan situasi yang mendorongnya seperti itu. Boleh jadi orang ketiga ini muncul karena adanya celah yang dibiarkan terbuka begitu saja, tanpa ada usaha untuk memperbaikinya.

Melalui buku Galau Orang Ketiga, penulis tak hanya menceritakan tentang galaunya sepasang kekasih yang dihinggapi orang ketiga atau tentang galaunya menjadi orang ketiga. Akan tetapi, penulis menguraikan beberapa tips untuk mengatasi galau orang ketiga. Di sini penulis memosisikan dirinya seperti seorang sahabat yang tengah memberikan saran kepada sahabatnya yang sedang galau, tak bermaksud untuk menggurui.

Inilah beberapa tips yang ada dalam buku Galau Orang Ketiga:

·         Satu, kalau kamu punya pacar yang kliennya kebanyakan lawan jenis, beritahu pacarmu agar bisa membatasi jarak hubungan dengannya. Tidak terlalu dekat tapi tidak menjauh juga dengan klien, nanti disangkanya jutek atau menyebalkan. Yang pasti beri penjelasan pada pacarmu agar bisa memosisikan dirinya dengan klien. Tapi, kamu harus memberitahunya dengan baik ya, jangan sampai kamu malah membatasinya bersosialisasi.

·         Kedua, kalau kamu mau nyomblangin seseorang sewajarnya saja. Cukup kamu memberikan referensi kepadanya tentang orang yang akan dijodohkannya. Beri dia no kontak, fb, email, twitter, atau apa pun yang berkaitan dengannya agar dia bisa langsung melihatnya sendiri. Kamu tidak perlu terlibat lebih jauh ke dalamnya. Biarkan mereka yang akan menilai pada akhirnya apakah cocok atau tidak.

·         Ketiga, ketika keraguan singgah pada dirimu, coba untuk tetap tenang dan tidak langsung memarahi pasanganmu. Selidiki dulu apakah kecurigaan kamu itu memiliki alasan yang kuat atau hanya sekadar numpang lewat. Jika memang sudah jelas alasannya, baru kamu hampiri dia dan minta penjelasannya mengenai semua keraguan itu.

·           Empat, ingat dengan pepatah “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri?”. Hello, guys and girls, sehijau-hijaunya rumput tetangga tetep aja punya tetangga! Kalau kamu merasa pasangan orang lain lebih menarik dan lebih perhatian daripada pasanganmu, ingat kalau dia itu punya orang lain! Jangan dulu merasa pasangan kamu tidak menarik dibandingkannya, justru siapa tahu pasangan kamu itu adalah yang terbaik buat kamu. Ubahlah mindset kamu yang tadinya “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri” menjadi “rumput sendiri tak kalah hijau dan segar daripada rumput tetangga”.

Jadi, mending dihadiri orang ketiga atau menjadi orang ketiga? Yang pasti keduanya hanya akan membuat galau. Biar enggak galau yuk baca Galau Orang Ketiga by @mayangmoy. Kalian bisa membelinya di nulisbuku.com





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com