Nenek-nenek Di Dalam Bulan Itu Ya Nini Anteh


sumber : http://www.amnh.org/var/ezflow_site/storage/images/media/amnh/images/events/festival-luna-new/747810-1-eng-US/festival-luna-new_large.jpg

Kalau bulan bisa ngomong

Dia jujur tak akan bohong

Lirik lagu di atas merupakan ciptaan Doel Sumbang yang dulu sempat booming di Indonesia. Enggak cuman bapa-bapa atau ibu-ibu yang suka dengan lagu ini, tapi hampir semua kalangan masyarakat menyukainya. Liriknya yang unik dan aransemennya yang mantap bikin semua orang senang mendengarnya.

Di dalam liriknya, Doel berangan-angan kalau bulan itu bisa ngomong. Nah, kalau masyarakat Sunda zaman dulu justru percaya di dalam bulan itu ada penghuninya. Mereka menyebutnya Nini Anteh. Kalau dalam bahasa Indonesia, arti dari nini adalah nenek. Wah, penghuni di dalam bulan? Gimana jadinya tuh ada penghuni di dalam bulan, Sobat Djadoel? Penghuninya nenek-nenek pula. Hmmm.

Jadi, sebenarnya Nini Anteh merupakan tokoh imajiner yang dibuat masyarakat Sunda zaman dulu di kala mereka melihat bulan purnama. Nah, kalau Sobat Djadoel perhatikan bulan pada saat bulan purnama, Sobat Djadoel akan melihat bercak hitam yang mirip dengan pulau yang ada di bumi pada bulan tersebut. Terkadang, bercak hitam itu pun menyerupai seorang nenek-nenek yang sedang menenun sambil seekor kucing.. Dan sebagian masyarakat Sunda zaman dulu meyakini bercak hitam itu sebagai sosok Nini Anteh. Lalu, siapakah Nini Anteh ini?

Konon,  menurut sebuah cerita rakyat yang menyebar dari mulut ke mulut teradpat sebuah kerajaan Sunda yang bernama Kerajaan Pakuan. Di kerajaan ini rakyat-rakyatnya hidup sejahtera, tenang dan tentram. Ini dikarenakan kerajaan Pakuan dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana.

Namun pada suatu hari di istana terjadi kegundahan, seorang dayang istana yang bernama Dasti meninggal setelah melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Dasti sendiri adalah seorang dayang pribadi ratu istana yang dikenal baik dan setia. Kala itu, istana bersedih kehilangan dayang yang baik hati. Bayi yang dilahirkan Dasti itu diberi nama Anteh yang kemudian dibesarkan oleh sang ratu, bersama dengan anak kandungnya yang bernama Putri Endahwarni.

Meskipun Putri Endahwarni dan Anteh berbeda status, tapi keduanya selalu terlihat rukun seperti saudara kandung. Putri Endahwarni adalah calon pewaris kerajaan Pakuan, sementara Anteh hanya seorang anak dari dayang istana yang telah meninggal dunia. Setelah beranjak dewasa, Anteh kemudian diangkat sebagai dayang pribadi Putri Endahwarni.

Selain ia cantik, baik, dan setia seperti ibunya, Anteh juga ternyata pandai sekali menjahit pakaian, sampai-sampai Putri Endahwarni ingin kalau suatu hari nanti ia menikah, baju pengantinnya harus dibuatkan oleh Anteh.

Hingga pada suatu malam, sang ratu memanggil Putri Endahwarni dan Anteh ke ruangannya. Sang Ratu mengatakan bahwa ia ingin putrinya tersebut segera menikah agar bisa segera diangkat menjadi Ratu untuk mewarisi kerajaan ayahnya. Dan ternyata tanpa sepengatahuan Putri Endahwarni, sang Ratu sudah menjodohkannya dengan seorang pangeran yang baik hati dan juga tampan. Pangeran itu bernama Anantakusuma, dia berasal dari kerajaan Kadipaten Wetan. Lalu, Sang Ratu menyuruh Anteh untuk selalu menjaga sang putri supaya tidak terjadi apa-apa sampai ia menikah.

Setelah kabar perjodohan itu, suatu pagi, Pangeran Anantakusuma yang sedang lewat Istana Pakuan mendengar suara merdu seorang wanita. Setelah ia mendekat, ternyata suara itu berasal dari Anteh yang sedang bernyanyi sambil memetik bunga di taman istana. Pangeran itupun langsung terpana melihat kecantikan Anteh, ia jatuh cinta dan berharap wanita yang ia lihat itu adalah calon istrinya karena Pangeran Anatakusuma pun belum pernah melihat wajah Putri Endahwarni.

Beberapa hari setelah itu, rombongan dari Kadipaten Wetan datang untuk melamar secara resmi Putri Endahwarni. Putri Endahwarni terlihat bahagia melihat calon suaminya yang tampan dan gagah. Berbeda dengan Putri Endahwarni yang berseri-seri, justru Pangeran Anantakusuma terlihat sangat kecewa, ternyata Putri Endahwarni bukanlah gadis impiannya yang ia lihat sebelumnya di taman.

Tapi, pada saat Anteh keluar membawakan makanan, wajah Pangeran Anantakusuma langsung berseri dan tertegun melihat kecantikan Anteh. Putri Endahwarni yang melihatnya merasa cemburu dan terlihat sangat marah. Setelah pertemuan itu selesai, Putri Endahwarni menyuruh Anteh untuk tidak melayaninya lagi. Saking marahnya, Putri Endahwarni mengusir Anteh untuk segera meninggalkan istana. Ia merasa cemburu melihat tatapan Pangeran Anantakusuma kepada Anteh malam itu.

Dengan sangat sedih, Anteh pun pergi meninggalkan istana menuju kampung halaman ibunya. Di sana ia tinggal bersama pamannya. Untuk membantu sang paman, ia menerima pesanan menjahit dari para tetangganya. Karena hasil jahitannya bagus, ia jadi terkenal sampai berbagai desa yang jauh sebagai penjahit yang hebat. Setelah 5 tahun berlalu Anteh pun menikah dengan seorang pemuda kampung yang bernama Balagantrang. Mereka hidup bahagia dan dikaruniai dua orang anak.

Putri Endahwarni sangat menyesal telah mengusir Anteh. Ia terus mencari ke berbagai sudut wilayah kerajaan. Sampai suatu hari, Putri Endahwarni mendengar ada seorang penjahit terkenal yang bernama Anteh. Dia yakin, penjahit itu adalah Anteh yang dicarinya selama ini. Dia langsung menuju ke kampung tempat Anteh tinggal. Setibanya di rumah Anteh, Putri Endahwarni langsung meminta maaf atas kelakuaanya yang telah mengusir Anteh dari istana. Dia juga meminta Anteh untuk kembali tinggal di istana. Dia berniat menjadikan Anteh sebagai penjahit istana. Kemudian Anteh beserta keluarganya pindah ke istana, di sana ia telah dibuatkan rumah di samping taman istana.

Awalnya, Pangeran Anantakusuma yang sudah menjadi suami dari Endahwarni bersikap biasa saja. Tapi suatu malam, Anantakusuma sudah tak bisa menutupi kerinduannya pada Anteh dan ia berniat menemuinya. Anteh yang sedang bermain bersama kucing kesayangannya sangat terkejut melihat kedatangan Anantakusuma. Ia terdiam, sementara Anantakusuma terus mendekat dan berniat memeluknya. Tapi Anteh tidak mau mengkhianati suaminya dan langsung lari ke rumahnya. Karena Pangeran Anantakusuma sangat sakti, Anteh mampu dikejarnya. Anteh yang tahu kesaktian sang pangeran hanya bisa berdoa memohon pada tuhan untuk menyelamatkannya. Dan tiba-tiba cahaya bulan mampu mengangkat Anteh terbang ke atas dan semakin atas sampai akhirnya tiba di bulan.

Anteh terus tinggal di bulan sampai ia tua, dan selalu menenun sambil ditemani kucing kesayangannya yang bernama Candrawati. Konon, saat bulan purnama Ninik Anteh selalu turun ke bumi untuk memberikan hasil tenunannya pada keluarganya dan rakyat yang membutuhkan.

Meskipun ini hanya sebuah cerita rakyat, tetapi di dalamnya terkandung makna yang sangat besar. Selain Nini Anteh sangat setia pada Putri Endahwarni, ia juga tetap menjaga kesuciannya dari Pangeran Anantakusuma, dan juga sangat setia pada suaminya. Hal-hal positif inilah yang harus Sobat Djadoel tiru. Cerita Rakyat memang selalu seru dan penuh makna.





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com