Batu Setia Batu Nong


sumber : http://2.bp.blogspot.com/-jF3ccUk9L9k/UPlWZbBQjQI/AAAAAAAAmJg/kt_F7nzqArw/s1600/Ular+Naga.JPG

BELAJAR bisa dari mana saja, dari guru, dari orang tua, dari teman bahkan dari lingkungan sekitar seperti hewan ataupun tumbuhan. Kali ini djamandoeloe.com ingin sharing soal kesetiaan dan kasih sayang dari sebuah batu. Hah, kok bisa? Batu apa? Nah, Sobat Djadoel, batu ini bukan sembarang batu loh, batu yang diberi nama Batu Nong ini mempunyai cerita yang sangat menarik .

Jika Sobat Djadoel pergi ke Desa Lengkong di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Sobat Djadoel bisa melihat sebuah batu besar yang dari kejauhan tampak seperti menggantung pada tebing bukit di dekat sungai Lengkong. Batu besar ini berbentuk bundar dan di bagian atasnya datar sehingga kita bisa naik ke atasnya. Oleh masyarakat sekitar, batu ini sering disebut Batu Nong. Nong sendiri dalam bahasa Sumbawa berarti ‘melihat ke bawah’. Dan memang jika kita naik ke atas batu ini, kita bisa melihat semua pemandangan yang ada di bawah bukit.

Lalu apa hubungannya Batu Nong ini dengan kesetiaan? Jadi, konon zaman dulu kala ada sebuah negeri yang terkenal makmur, damai dan aman. Di negeri ini tak pernah ada yang namanya kejahatan, bahkan kedudukan wanita terhadap pria dianggap sama. Seperti zaman sekarang, orang menyebutnya emansipasi wanita di mana wanita mempunyai hak yang sama dengan para pria.

Namun, ada satu hal yang membedakan wanita dan pria pada saat itu. Para pria dilarang menceboki anaknya. Dan hal tersebut dipercaya setiap penduduk yang ada di sana sehingga tidak ada pria pun yang pernah menceboki anaknya.

Hingga pada suatu hari ada berita yang menyebar di masyarakat, negeri tetangganya akan membuat acara yang sangat besar. Sontak saja penduduk negeri itu ikut senang, karena sudah lama tidak ada acara besar di negerinya. Jadi banyak penduduk yang berencana pergi ke negeri tetangganya itu untuk sekadar melihat acara yang disebut-sebut akan sangat ramai.

Berita itu juga disambut baik oleh salah satu keluarga yang ada di sana. Keluarga yang baru memiliki balita ini juga sangat antusias mendengar berita tersebut, terutama sang istri. Sang istri yang semenjak menikah tidak pernah bersenang-senang itu langsung meminta izin pada suaminya untuk pergi menyaksikan acara tersebut. Awalnya, sang suami tak mengizinkan karena ia khawatir nanti pada saat anaknya buang air besar tidak ada yang mencebokinya. Tapi, sang istri terus saja memohon pada suaminya.

Karena rasa sayang sang suami yang begitu besar terhadap istrinya, ia pun akhirnya mengizinkan sang istri untuk pergi ke negeri tetangga. Mendengar keputusan sang suami, si istri merasa senang sekali. Kemudian ia pergi bersama tetangganya yang juga ingin menyaksikan acara akbar tersebut.

Setibanya sang istri di negeri tetangga, ia begitu gembira hingga larut dalam keramaian acara dan lupa akan hal lainnya. Saking senangnya, ia juga melupakan keluarganya yang telah ia tinggalkan selama tiga hari.

Sementara itu, sang suami yang tinggal di rumah kewalahan dengan anaknya yang buang air besar. Ia sudah tidak tahan lagi mencium bau pup anaknya yang belum juga dibersihkan. Karena kepalang tanggung, ia memberanikan diri untuk menceboki anaknya.

Hal yang paling ditakutkan oleh warga desa pun datang, yaitu sebuah kutukan akibat seorang pria yang menceboki anaknya. Badan si ayah ini mulai bersisik, tangan dan kakinya mulai mengerut sampai menghilang. Dan akhirnya sang ayah berubah menjadi seekor ular berkepala manusia.

Singkat cerita, sang istri pulang dengan wajah gembira karena telah menyaksikan acara yang sangat megah. Setibanya dirumah, sang istri sangat kaget melihat suaminya telah berubah menjadi seekor ular. Sang suami menceritakan pada istrinya mengapa ia bisa berubah menjadi seekor ular. Kemudian berita mengenai seorang pria yang berubah menjadi seekor ular pun terus menyebar ke seluruh negeri.

Untuk menghindari rasa malu istrinya, sang suami rela mengasingkan diri ke sungai di dekat kampung. Ia rela tinggal di sungai sendirian, tanpa ditemani sang istri ataupun anaknya. Dengan sangat sedih, sang istri mengikuti kemauannya. Ia mebawa sang suami ke sungai dengan cara memasukannya ke dalam tempayan besar agar tidak terlihat warga lain. Sang suami hanya meminta kepada si istri untuk mengirimkan makanan setiap harinya selama ia berada di sungai.

Beberapa tahun setelah itu, terjadi bencana besar yang menghancurkan hampir seluruh desa. Banyak penduduk yang tewas, namun sebagian lainnya bisa melarikan diri dan pergi mengungsi dengan berlayar entah kemana. Di antara penduduk yang ikut mengusngsi itu, istri sang ular termasuk ke dalamnya. Ketika mereka berlabuh di suatu tempat, mereka melihat sebuah tempayan besar yang juga ikut berlabuh. Dan ternyata tempayan besar yang berisi ular itu telah mengikuti perahu tersebut selama berhari-hari.

Kemudian para pengungsi mulai membuat pemukiman di darat dengan membuat gubuk-gubuk sederhana sebagai tempat berlindung sementara. Pada suatu malam, ketika juragan perahu pergi ke sungai, ia terkejut karena di tepi sungai itu terdapat sebuah batu besar yang menghalangi aliran air sungai. Setelah diamati, ternyata yang menghalangi aliran air sungai itu bukanlah batu melainkan tempayan yang berisi ular tadi. Kemudian ia mendengar suara dari dalam tempayan yang memintanya untuk dipindahkan ke atas bukit.

Lantas sang juragan perahu itu memindahkannya ke atas bukit, dan anehnya tempayan tersebut menempel pada tebing bukit. Sang juragan terheran-heran melihat keanehan ini. Ia semakin heran ketika melihat tempayan itu kini telah berubah menjadi sebuah batu yang besar.

Keesokan harinya, sang juragan menceritakan pengalamannya ini pada seluruh pengungsi. Sontak saja para pengungsi itu penasaran ingin melihat batu tersebut dan pergi beramai-ramai ke atas bukit. Kemudian para pengungsi memberi nama batu itu dengan ‘Batu Nong’.

Inilah kisah kesetiaan dan kasih sayang sebongkah batu. Batu yang selalu setia menjaga istrinya agar selalu dalam keadaan aman. Kalau bukan karena rasa sayang si suami terhadap istri, mungkin ia tidak akan melanggar aturan desa dan berubah menjadi seekor ular lalu menjadi batu.

Tapi, sisi positif dari kisah ini bisa ditiru dari kesetiaan sang suami dan juga sang istri yang tetap memberi makan suaminya walau ia telah menjadi ular. Semoga Sobat Djadoel juga selalu dikelilingi oleh orang-orang yang setia dan penuh kasih sayang ya smiley





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com