Celana Dalam Penolak Hujan


 

TUHAN itu Maha Segalanya, apa yang diciptakan-Nya selalu bermanfaat bagi semua makhluk ciptaan-Nya, tak ada yang sia-sia, seperti halnya hujan pembawa berkah. Ya, hujan selalu bisa bisa menyejukkan dan membuat makhluk yang ada di bumi seakan diguyur dengan kebaikan.

Banyak orang yang senang dengan datangnya hujan, karena dengan datangnya air dari langit ini bisa mendatangkan berbagai rezeki. Misalnya, rezeki bagi para petani yang sedang bercocok tanam. Mereka akan merasa sangat terbantu dengan datangnya hujan karena tanamannya tidak akan kekeringan. Lalu, para tukang cuci motor yang semakin bertambah pelanggannya di kala hujan, begitu juga dengan orang-orang yang jadi ojek payung. Mereka bisa mendapatkan penghasilan di kala hujan turun.

Tapi, huja pun bisa sangat tak diharapkan oleh sebagian orang, seperti para penjual es karena pembelinya akan semakin berkurang lalu beralih haluan untuk membeli makanan atau minuman hangat. Begitu juga dengan orang yang akan menggelar hajatan. Biasanya, mereka sangat mengharapkan cuaca cerah agar acara hajatannya lancar. Apalagi, kalau yang hajatannya akan dilakukan di ruangan terbuka semacam garden party, wah bisa kacau balau deh acaranya bila hujan tiba-tiba datang.

Oleh karena itu, kadang kala ada beberapa orang yang melakukan berbagai cara untuk menolak datangnya hujan demi berlangsungnya acara. Ada yang menyewa pawang hujan atau juga ada sebagian dari mereka yang sampai melakukan ritual khusus agar hujan ini tak datang di saat hajatan sedang berlangsung.

Nah, Indonesia yang terkenal dengan mistisnya ini memiliki banyak ritual yang biasa dilakukan untuk menangkal terjadinya hujan. Ritualnya pun unik-unik loh Sobat Djadoel. Ada yang menggunakan bumbu dapur seperti kalau kita mau masak. Jadi, katanya kalau mau menangkal hujan siapkan bawang merah, bawang putih, dan juga cabe merah. Setelah bahan-bahan itu terkumpul lalu tusuk semua bahan itu menggunakan tusuk sate. Bahan-bahan yang sudah ditusuk seperti sate nantinya akan ditaruh di setiap pojok rumah. Ada juga yang menngunakan sapu lidi, kata orang tua zaman dulu si sapu ini harus ditengadahkan ke lengit supaya hujan urung datang.

Entahlah apakah cara tersebut berhasil atau tidak, tapi beberapa orang percaya dengan ritual ini. Dan ada satu ritual lagi yang bisa dibilang menjijikan atau mungkin bisa bikin Sobat Djadoel mengerutkan dahi.

Cara menangkal hujan yang satu ini adalah menggunakan celana dalam sebagai senjata ritualnya. What? Underwear? Eitss…enggak usah heran, mungkin Sobat Djadoel juga sudah ada yang tahu dengan ritual ini karena ternyata ritual inilah yang banyak digunakan orang tua zaman dulu.

Mereka percaya bahwa celana dalam ini bisa dijadikan sebagai senjata ampuh untuk menolak datangnya hujan atau menghentikan hujan sementara waktu sampai acara yang diadakan selesai.

Dan katanya, celana dalamnya juga enggak bisa sembarang celana dalam. Syaratnya, celana dalam yang bisa digunakan dalam ritual ini harus celana dalam bekas pakai, enggak boleh celana dalam yang masih bersih apalagi beli baru. Lalu celana dalamnya diapakan? Jadi, untuk menangkal datangnya hujan celana dalam bekas yang kita pakai itu harus dilempar ke atap rumah alias genting. Dan hal itu harus dilakukan sebelum acaranya dimulai. Celana dalamnya juga harus punya si pemilik hajat, enggak boleh kalau celana dalam yang dilempar itu milik tetangga karena katanya nanti ritualnya percuma, enggak akan mempan. Ewww, engak kebayang deh kalau celana dalam itu baunya menyebar kemana-mana saat hajatan berlangsung.

Entah dari mana asalanya ritual seperti ini, tapi yang jelas ritual melempar celana dalam bekas ini sudah ada sejak zaman dulu. Mungkin bisa dibilang warisan yang turun temurun dari nenek moyang. Banyak yang percaya, banyak juga yang menggangapnya hanya sebagai lelucon saja. Tapi ini bisa menjadi hal yang unik dan menambah keragaman budaya Indonesia.

Jadi kalau Sobat Djadoel mau malam mingguan dan tiba-tiba mendung, siapa tahu mau mencoba cara tersebut supaya acara malam mingguannya enggak berantakan gara-gara hujan datang. laugh





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com