Memperingati Hari Pahlawan


DI siang yang cerah Kang Adoel menghampiri Teh Lulu yang tengah asyik memasang iket berwarna merah putih di kepalanya.

Kang Adoel : Lu, ngapain kamu pakai iket kepala merah putih gitu?

Teh Lulu: Eleuh..eleuh, Kang Adoel  lupa ya?

Kang Adoel : Lupa apa? Emangnya hari ini ada apa gitu, Lu? Bukannya 17-an mah udah lewat ya?

Teh Lulu: Haha…Kang Adoel, Kang Adoel, masa kalau pakai iket kepala harus memperingati hari kemerdekaan aja. Ya ga atuh, Kang. Teh Lulu pakai iket kepala merah putih ini tuh buat memperingati hari pahlawan. Kan sekarang tanggal 10 November. Kang Adoel lupa nih, hehe.

Wah ternyata Kang Adoel lupa kalau hari ini Hari Pahlawan. Kalau Sobat Djadoel sendiri gimana nih? Enggak pada lupa kan? Yang pada lupa, Teh Lulu mau ingetin nih tentang 10 November. Jadi gini Sobat Djadoel, ketika Indonesia baru memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dan setelah Jepang menyerah kepada pihak sekutu akibat tragedi Bom Atom Hirosima dan Nagasaki, ternyata masalah tidaklah tuntas sampai di sana.

Nah, di saat rakyat dan pejuang Indonesia sedang berupaya melucuti senjata dari para tentara Jepang, tepatnya pada 15 September 1945, tentara Inggris malah mendarat di Jakarta. Kemudian, mereka juga mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Para tentara Inggris ini datang ke Indonesia atas nama blok sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) dengan tujuan yang sama, yaitu melucuti tentara Jepang, membebaskan tentara yang di tawan Jepang, serta memulangkan mereka ke negara asalnya.

Dan tahu enggak Sobat Djadoel, di balik tujuannya itu ternyata Inggris juga membawa misi lain, yakni mengembalikan Indonesia pada pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Mereka juga memboyong NICA (Netherlands Indies Civil Administration) untuk melumpuhkan Indonesia. Jelas, hal itu memicu gejolak rakyat Indonesia sehingga menimbulkan perlawanan terhadap AFNEI dan pemerintah NICA. Ckckck, hmmm, parah ya Sobat Djadoel. Meski Indonesia sudah menjadi negara merdeka masih saja diubek-ubek oleh negara lain.

Salah satu insiden yang paling terkenal karena ulah mereka adalah saat perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 18 September 1945. Insiden tersebut diawali ketika sekelompok orang Belanda yang berada di bawah pimpinan Mr. W. V. CH Ploegman mengibarkan bendera Belanda yang berwarna merah, putih, biru di tiang tertinggi hotel Yamato tanpa persetujuan pemerintah daerah Surabaya. Sontak pengibaran ini memicu kemarahan pemuda-pemuda Surabaya.

Soedirman sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI mendatangi Ploegman dengan dikawal Sidik dan Hariyono untuk melakukan perundingan. Ia meminta Ploegman beserta antek-anteknya menurunkan bendera Belanda itu. Akan tetapi, Ploegman tidak menyetujui perundingan tersebut. Ia tidak mengakui kedaulatan Indonesia sebagai negara merdeka. Pertempuran pun tak dapat dihindarkan, Ploegman tewas saat itu juga. Kemudian, Hariyono dan Koesno Wibowo memanjat hotel Yamato untuk menurunkan bendera Belanda. Mereka berhasil melakukannya, lalu merobek bagian birunya, dan mengereknya kembali ke puncak tiang. Bendara merah putih kembali berkibar.

Peristiwa tersebut menimbulkan pertempuran lainnya. Serangan-serangan mulanya kecil berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris. Pertempuran itu pun menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby (pimpinan tentara Inggis untuk Jawa Timur).  Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah besar kepada pihak Indonesia sehingga menimbulkan pertempuran baru yang lebih dahsyat.

Kota Surabaya saat itu sangat mencekam. Berbagai serangan dengan senjata modern bertebaran dimana-mana mulai dari darat, laut dan udara. Bung Tomo sebagai salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati kala itu terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya hingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.

Peristiwa itu setidaknya menelan ratusan ribu rakyat Indonesia. Sebanyak  6.000 sampai 16.000 pejuang Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa ini telah menggerakan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahan kemerdekaan Indonesia. Banyaknya pejuang yang gugur serta rakyat sipil yang menjadi korban itulah hingga sekarang Indonesia mengenang 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Begitulah ceritanya Sobat Djadoel mengapa setiap tanggap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Yuk, Sobat Djadoel kita kembangkan potensi diri kita dan berprestasi di dunia Internasional sebagai salah satu upaya dalam membalas jasa-jasa mereka dan mengenang Hari Pahlawan. Sehingga kita bisa memajukan Indonesia dan mempertahankan kedaulatan serta kemerdekaannya.  Semangaaat smiley

 





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com