Nostalgia Menulis Elok


SEKARANG ini banyak sekali media untuk menulis, dengan hanya membuka notes di handphone saja kita sudah bisa menulis. Atau kalau mau agak ribet kita bisa nulis di Microsoft Word. Bahkan membuat status di facebook atau social media yang sekarang lagi ngehits seperti twitter pun sudah termasuk dalam kategori menulis.

Tapi yang lebih afdol itu kalau kita menulis langsung di atas kertas pake bolpoin atau pensil. Selain kita bisa mencurahkan isi hati, menulis dengan bolpoin juga bisa melatih saraf motorik sekaligus mengembangkan kecakapan intelek. Oleh karena itu, waktu kita sekolah dulu selalu diajarkan bagaimana cara menulis yang benar. Bahkan selain belajar menulis balok, sebagian guru juga mengajarkan bagaimana cara menulis elok, atau menulis indah, atau yang lebih umum disebut dengan menulis tegak bersambung.

Apa Sobat Djadoel masih ingat dengan pelajaran menulis elok ini? Menulis elok termasuk salah satu keterampilan yang terdapat pada pembelajaran Bahasa Indonesia dengan cara menggabungkan huruf demi huruf, sehingga membentuk suatu kata hingga menjadi kalimat yang indah.

Dulu zaman SD ketika kita naik ke kelas tiga, kita akan diajarkan pelajaran menulis elok ini. Kata orang menulis elok termasuk pelajaran yang sulit untuk ditaklukkan. Dan memang benar, dulu banyak anak-anak yang bisa dibilang frustasi saat belajar menulis elok. Bahkan menulis elok ini menjadi musuh anak-anak yang baru naik ke kelas tiga.

Dalam menulis tegak bersambung terdapat beberapa peraturan supaya tulisannya terlihat indah, mungkin ini yang menjadikannya terasa sulit. Tapi yang paling utama dalam menulis tegak bersambung ini sebenanya ialah hasil tulisannya yang harus bisa dibaca. Percuma dong kalau kita sudah menulis dengan sangat indah tapi gak bisa dibaca oleh orang.

Meskipun sulit, pelajaran menulis tegak bersambung ini tetap saja diajarkan di sekolah. Karena menulis tegak bersambung ini bisa melatih kesabaran dan ketekunan siswa pada saat melakukannya.

Dan menurut ilmu grafologi, ilmu yang mempelajari arti dari setiap tulisan tangan, tulisan yang miring itu dianggap sebagai budaya yang tidak punya motivasi dalam menyongsong masa depan. Tulisan miring juga diartikan sebagai suatu sikap yang pesimistis. Karena menurut ilmu grafologi, tulisan itu ternyata bisa menggambarkan tentang kepribadian si penulisnya. Jadi enggak salah memang kalau dulu kita diajarkan untuk menulis tegak bersambung. Karena menulis tegak itu menggambarkan seorang yang optimis, penuh energi, dan penuh aura positif.

Ada satu ciri khas dalam menulis tegak bersambung ini, yaitu pada bukunya. Jadi, khusus untuk menulis elok, para siswa tidak bisa menggunakan buku kayak biasanya, tetapi harus menggunakan buku khusus menulis elok. Nah, kalau buku untuk menulis elok itu mempunyai tiga garis yang berurutam, yakni garis pertama biasanya tipis, garis kedua tebal dan garis yang ketiga kembali tipis. Buku ini disebut dengan buku bergaris tiga. Disinilah letak seni dari menulis elok. Kita harus bisa menulis sesuai dengan garis-garis tersebut, tidak lebih tidak kurang.

Uniknya, tak hanya bukunya yang berbeda dari biasanya tapi kalau dulu, papan tulis di kelas juga selalu dibagi dua, yang kiri dibuat dibuat bergaris untuk belajar menulis elok dan yang kanan dibiarkan polos begitu saja. Tidak seperti sekarang, papan tulis dibagi dua dengan white board. Nah, makanya dulu mimin djamandoeloe.com suga deg-degan kalau disuruh maju ke depan buat nulis elok di papan tulis tersebut soalnya takut salah dan dilihat banyak orang.

Ada satu hal yang paling diingat kalau lagi belajar menulis elok ini adalah ketika sang guru membandingkan tiap tulisan anak yang bagus dan jelek. Rasanya seneng banget kalau saat itu tulisan kita termasuk ke dalam siswa yang tulisan eloknya dinilai bagus.

Tapi anehnya, meski dulu pernah belajar menulis tegak bersambung, sekarang jarang sekali ada orang yang mengaplikasikan tulisan itu dalam kehidupan sehari-hari malah kebanyakan yang menulis dengan tulisan balok saja.

Nah, kalau zaman sekarang masih ada enggak ya pelajaran menulis elok ini? Atau sebagian Sobat Djadoel ada yang menerapkan pelajaran ini ke dalam tulisannya sehari-hari? Well, ada atau tidaknya pelajaran itu sekarang serta orang yang menerapkannya, pelajaran ini pasti ada manfaatnya wink





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com