Paciwit-ciwit Lutung


https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/73/Paciwit_ciwit_lutung.jpg

“Paciwit-ciwit lutung, Si lutung pindah ka luhur”

“Paciwit-ciwit lutung, Si lutung pindah ka tungtung”

Mungkin penggalan lagu di atas sudah tak asing lagi bagi telinga orang Sunda. Lagu ini sering kali dinyanyikan oleh anak-anak zaman dulu untuk mengiringi permainan paciwit-ciwit lutung.  Tak tahu pasti mengapa harus “lutung” yang diciwitnya (dalam bahasa Indonesia ciwit berarti cubit).

Tapi yang pasti, permainan yang dimainkan sedikitnya oleh dua orang ini dulu sangat popular. Zaman dulu, paciwit-ciwit lutung sering dimainkan oleh anak-anak pada malam hari sambil diterangi oleh cahaya bulan. Permainan dengan cara saling menyusun tangan bertumpuk ke atas ini sangat mudah dimainkan, hanya menggunakan tangan saja. Tangan yang ada di atas akan mencubit punggung tangan yang ada di bawahnya. Begitu seterusnya sampai ke bawah. Dan ketika lagu selesai dinyanyikan, tangan yang paling bawah akan pindah ke tumpukan yang paling atas dan tentunya sambil mencubit tangan yang ada di bawahnya.

Pada umumnya, dalam permainan ini tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah. Jadi, permainan paciwit-ciwit lutung ini hanya dimainkan untuk bersenang-senang saja. Meskipun begitu, permainan paciwit-ciwit lutung kaya akan nilai-nilai moral. Dalam permainan ini kita bisa belajar pengendalian rasa dan tenggang rasa terhadap sesama teman. Karena ketika tangan kita berada di bagian paling atas, kita bisa saja mencubit tangan yang berada dibawah dengan sekeras-kerasnya. Otomatis tangan yang ada di bawahnya juga akan melakukan hal yang sama pada tangan yang berada di bawahnya lagi.

Namun ternyata tangan kita yang satunya lagi masih ada di bawah, itu berarti kita juga akan kebagian rasa sakit yang sama seperti rasa sakit yang kita buat untuk orang lain saat tangan kita berada d ibagian paling atas. Jadi sebenarnya ketika kita menyakiti orang lain, yang akan merasa sakit adalah semuanya termasuk diri kita sendiri

Selain itu, melalui permainan paciwit-ciwit lutung juga kita bisa belajar tentang hidup. Ada suka dan duka, kadang ada di atas menikmati kebahagiaan, kadang ada di bawah mengalami kepahitan.

Permainan tradisional sendiri banyak sekali manfaatnya, karena permainan tradisional bisa merangsang daya pikir (kognitif), mengasah rasa (koaktif), hingga mampu mengasah keterampilan dan kecakapan (psikomotorik).

Secara tidak langsung, anak-anak zaman dulu yang memainkan permainan tradisional telah mendapat pendidikan dan pengajaran yang bagus dari permainan yang mereka mainkan. Jadi tak heran jika anak-anak kampung atau anak-anak yang dulu memainkan permainan tradisional lebih memiliki kecerdasan, daya nalar, perasaan, solidaritas yang lebih baik, bahkan kreativitas mereka juga berkembang dengan bagus.

Beda dengan anak-anak kota atau anak-anak zaman sekarang yang kebanyakan hanya bermain dengan gadget, yang biasanya hanya dimainkan di dalam ruangan. Permainan elektronik cenderung hanya bisa meningkatkan kemampuan motorik sang anak saja, dan efek samping yang tergolong berbahaya adalah membuat sang anak menjadi tertutup dan lebih individualis.

Selain itu anak-anak yang hidup di zaman teknologi cenderung bersifat manja karena di sekililingnya serba mudah tanpa harus berjuang seperti ketika anak-anak kampung akan membuat kuda-kudaan dari pelepah pisang.

Permainan tradisional merupakan warisan budaya leluhur kita, dan tak bisa dipungkiri bahwa permainan tradisional memang sangat kaya dengan filosofi. Namun sayangnya permainan itu perlahan mulai dilupakan sehingga filosofi yang terkandung dalam setiap permainan juga ikut terlupakan. Jadi, ayo Sobat Djadoel kita lestarikan permainan-permainan tradisional yang ada di sekeliling kita, dengan cara memainkannya. So, Ayo Bermain!





Mari Bernostalgia


comments powered by Disqus

copyright 2017 - djamandoeloe.com